Kamis, Mei 23

Sedih datang setelah membaca puisi Aan

Puisi mu mengenangku akan ibu. Kau dan segala dosa. Tiga hal yang harus selalu kuingat. Mereka selalu hilang dalam ingatkan. Tetapi tidak dari hati.

Tiba-tiba setelah aku membaca puisi yang kau kirimkan saban Kamis, Kepadaku. Sudah sebulan aku ingin melupakanmu. Dan tiba-tiba saja aku ingin membeli ibu sepotong mukena polos seperti yang Ia pernah minta kepadaku.

Lalu seketika aku menjadi puitis seperti yang engkau inginkan. Aku yakin kau selalu menangisi perempuan yang telah pergi namun ia selalu kau kenang. 

setiap malam kau melantunkan isi hatimu yang hancur akibat perempuan lain. Tahukah kau, lelaki, aku hanya ingin mendengar puisi cinta yang kau buat untukku. Hanya ingin melihat kau tersenyum saat memandangku. 

Pandanglah aku sebagai masa depan yang akan menemani hari tuamu. Jika kau memandangku sebagai perempuan itu, Maka kau akan mati terkubur kenangan yang kau gali sendiri bersama malam yang kau ciptakan bersamamu.

Bisakah kau menelfon untuk menanyakan ibuku. Mungkin lebih baik kau tak menelfon jika hanya kau tidak setuju pekerjaanku. Puisi bukan pekerjaan yang harus kubeberkan. Puisi akan terus kucipta untukmu agar tak mengurangi nilai cinta yang kulukiskan melalui kata. 

Jika kau patah hati, lalu melukai diriku. Maka aku hanya akan menggoreskan tinta dengan darah dan air mata. (Macam koran kuning aja). 

Tahukah ibu, dia lelaki yang membuatku terlalu lama menunggu. Ibu harus menunda saat bahagia itu. Saat dia jadi milikku. 

0 komentar:

Posting Komentar