Kamis, Februari 20

Inul Janda Tista

Bedak sedikit tebal, dipadu gincu dengan warna berlebihan. Ia meminta sedikit sedekah. Katanya buat anak di rumah. Baju kemeja yang sangat ketat. Demikian rok bahan katun bunga-bunga, membungkus pantatnya yang semok. Rambutnya pirang, munkin karena kehilangan pigmen. Gumpalan rambut itu sedikit keluar dari bungkusan jelbab yang diikat ujungnya ke belakang. Aut-autan. 

Ia mengaku datang dari kota sebelah. Tak mengenakan sendal. Tumitnya pecah-pecah. 

Meminta tas kresek kepadaku.
Ada yang unik dari bawaannya. Sebuah tas slempang, lebih mirip tas pinggang. Tergantung foto dirinya dalam plastik seukuran foto juga. Dilekatkan dengan peniti. Foto studio jaman 90-an, fullbody. Cantik sekali. Gayanya di dalam foto itu memang up to date pada jaman ya. 
"Soe nan kak ? (Siapa nama kak?)," tanyaku. 

Ia tersenyum dan buru-buru menunjukkan kalung rantai putih yang tergantung sebuah plat besi tertulis. "Inul Janda Tista" yang terukir di sana. 
Ia membalikkan badan meninggalkanku. Sambil berkata "lon Inul (saya Inul)," mungkin karena pantatnya yang bohai, ia mendapat julukan Itu. Sempat memang aku ngakak saat melafadkan nama penuhnya. Tapi ia tak sepenuhnya waras.
 
Ia menyebrang jalan ke arah menasah desa yang sedang gegap gempita membagikan nasi maulid. Beberapa saat ia kembal dan merepet. Bahwa tidak ada yang memberinya nasi sekulah pun. Tega mereka. 

Lalu Inul pergi dariku. Melewati seorang bapak. Inul menegur akrap, sambil mengelus bahu si bapak. Tersenyum sembari melangkah pergi. 

Itu kejadian tadi siang. Sore ini aku masih berada di pinggir jalan. Ada dua orang laki-laki juga yang sedang menunggu teman. Serang wanita melintasi kami. Mengenakan piama katun, bergambar boneka. Mengigit jari tangan sambil menggoda kedua lelaki tadi dengan pandangan. 

Lalu, seorang dari mereka mencoba tersenyum padanya. Wanita ini spontan malu dan berlari sambil meremas bajunya. Lalu agak jauh ia berhenti di sudut pagar. Sedikit mengintip dan mengigit jari lagi. Kata ibu, itu wanita desa tetangga. Kurang waras juga. Ditinggal suami juga. Subhanallah. 

1 komentar: