Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label features. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 11

Maulid Di Atas Mercusuar Pulo Aceh

Bulan maulid tiba, kami mendapat undangan dari warga Pulo Aceh untuk datang merayakan acara maulid di Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Desa paling ujung Indonesia ini mengadakan kenduri (pesta makan) dengan mengundang warga lelaki dari desa lain untuk acara makan-makan atau disebut kenduri.

Maulid paling lama di dunia terjadi di Aceh yaitu selama tiga bulan. Dalam waktu tersebut masyarakat kapan saja melakukan kenduri maulid ini. Rusdi Sufi, Serawan Aceh pernah bercerita, bahwa maulid di Aceh merupakan perintah raja untuk memenuhi janji pada Negara Persia dahulu. Kerajaan Aceh yang berhutang pada Negara tersebut dibebaskan hutannya dengan memberikan makan kepada rakyatnya pada hari kelahiran nabi Muhammad Saw.

Berangkatlah kami dengan menggunakan boat penumpang dengan ongkos Rp20 ribu dengan menempuh waktu 2,5 jam. Dengan harapan perbaikan gizi bagi kami anak kos, kami juga membawa alat untuk alat snorkeling untuk menikmati terumbu karang dan ikan.
Sejak pagi ibu-ibu menyiapkan masakan dan disaji dalam piring kecil yang disusun betingkat dalam tabeusi (talam), lalu ditutup dengan tudung bercorak Aceh dengan aneka warna. Sementara nasinya dibungkus dengan daun pisang yang telah diasapkan dengan api membuat nasi beraroma khas daun pisang. Lalu nasi ini dibungkus membentuk kecurut yang disebut bu kulah.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhATWRlNfUz8uRZXfT_k9AhjLP_ltiE5hmTzBHoXsRCwuH1s2lwzewPwpWKB5_eZJCojz5H5xAdpAmyzECtUMDCJVZnHdE9aIGviRYWRLx699B4MV4XWyisHFS10NipyGH6vkHHdm5KrIfT/s400/DSCN3689.JPG

Ada yang unik dengan ritual maulid di pulau terpencil itu. Sebelum menyiapkan dan menyusun masakan kedalam tabeusi, ibu-ibu membakar kemenyan di atas sabut atau kulit kelapa. Kata ibu Azizah, pemilik rumah yang kami datangi, ritual ini untuk memanggil arwah dan mengenang Nabi Muhammad Saw. Semerbak kemenyan mengapung menjadi asap di dalam dapur. Lalu susunan makanan itu di tutupi dengan tutup idang (tudung saji) membungkus dengan kain berwarna-warni biasa dari kain selendang. Bungkusan idang siap di antar ke menasah desa.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqQTnWjm48qHL0w8DcYiwr1YfJmB8J-s2CAnWy9zA1GMIuyXX4URMZyq_Big5rm0PmSWT6lWRc0QUbtpGLjMmUFa6pEijR8imE4mDeYB-NS0s3NWqy8hGLPq4bCsjO_AjMaTcWDtJhocyQ/s400/DSCN3723.JPG
Setelah selesai, kaum lelaki membawa idang tersebut dari rumah masing-masing. Tamu dari desa lain telah berkumpul dan siap menyantap kenduri maulid bersama-sama di menasah. Lalu sisanya boleh dibawa pulang, dengan mencampur semua lauk ke dalam nasi. Itulah khas kenduri dengan campuran nasi dan lauk yang dimakan kam perempuan di rumah.
Kami tidak hanya makan kenduri maulid ini di menasah saja. Mercusuar Willem Toren adalah landmark nya Pulo Aceh, peninggalan Belanda yang harus diabadikan. Lalu kami membawa bungkusan bu kulah ke mercusuar dengan berjalan kaki selama satu jam lebih. Di atas ketinggian 85 m mercusuar kami kembali makan kenduri maulid sambil menikmati pemandangan laut lepas. Hal terpenting adalah membuka handphone untuk mempublikasikan kenduri maulid ini di sosial media. Karena sudah sejak kemarin kami tiba di desa, belum mendapat sinyal handphone, maklum tidak ada tower di desa. Ajang narsispun terjadi hingga kami pulang kembali ke desa. Malam hari kami mendatangi mesjid untuk mendengar dakwah bersama masyarakat desa yang menjadi bagian dari acara maulid.[]


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixzQ4yPm9Ey4cDP9K-hOlaN3vJ9BYRB6g2TzTKUOI8zjSqzXp_tbIBMlLe6kMOynG4ZuQWpdhlI3R2_TpUOmiWzDn75fB8kiB5NxQ5yVs6EXLX8RqoAq47cmniJ4tS7TRkBspNYUVbUeTV/s400/DSCN3733.JPG

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoT1HvEYTAQGMgjrmZ6x_IWYtoRiEcIklq_CPlit1U1ry1gYRvw7VjdJTY1JbHBa1-r4169zid7hyphenhyphenkAnCLjEWqkp58okIIPMGuD9jY_GJ3XtDUnKBW7T-YWOTIpIhjGKAkn8n1p8qFf8iP/s400/DSCN37822.JPG




Rabu, Oktober 9

Stunting Masalah Kesehatan Menggangu Pertumbuhan


Kita sering bertanya, mengapa saya pendek dari teman-teman seusia? mengapa saya mudah sakit? mengapa saya kurang cerdas dan tidak pinter? Sadarkah kalau sebenarnya kita mengalami stunting.



Stunting mengindikasikan adanya masalah gizi kronis, yang berasal dari kompleks faktor termasuk gizi ibu kurang maksimum selama kehamilan, menyusui tidak pantas praktek serta kemiskinan.
Stunting terus menjadi tantangan bagi Indonesia . kita adalah negara mengalami stunting pada peringkat kelima terbesar dengan jumlah anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang sedang atau parah terhambat  masa pertumbuhannya.

Konsekuensi dari stunting bisa sangat besar yaitu kemampuan belajar terganggu, pertumbuhan goya, dan produktivitas yang rendah di kemudian hari. Anak-anak yang kekurangan gizi memiliki kesempatan lebih rendah untuk bertahan hidup dibandingkan dengan orang lain yang memiliki status gizi yang baik. Mereka berada pada risiko lebih tinggi menderita penyakit menular, yang akan merusak fungsi kognitif mereka.




Perilaku orang tua memberi pengaruh bagi perkembangan tumbuh anak. Pemberian makanan tambahan pada anak usia 0-6 bulan seperti pisang adalah salah.  Tidak hanya bayi yang sudah lahir, sebelum kita dilahirkan pun kita sudah membentuk fisik di dalam janin sang ibu. Ibu seharusnya mengkonsumsi 90 tablet FE (zat besi dan suplemen asam folat) salama ia hamil 9 bulan. Terkadang sang ibu mual saat mengkonsumsi, namun jangan lantas menghentikannya.

Setelah melahirkan, ibu langsung memberikan kolostrum kepada bayi dalam waktu satu jam. Kolustrum merupakan susu pertama setelah setelah melahirkan yang berwarna kuning pekat. Namun kebiasaan di Aceh (setahu saya) ibu-ibu membuang susu ini. Padahal cairan ini sangat berguna untuk mencegah anak rentang terkena penyakit. Perusahaan susu formula pun mulai membuat produk dengan nama kolostrum karena memang kandungannya sangat baik untuk bayi. Namun ASI tidak dapat ditandingi khasiatnya oleh produk buatan manapun.

Saya seorang yang mengalami stunting tidak ingin anak saya mengalami masalah kesehatan yang sama. Generasi penerus harus lebih baik dari sebelumnya.





Aceh merupakan propinsi terkaya ketiga di Indonesia, tetapi peringkat kelima termiskin. Ini menjadi pengaruh dan faktor untuk mencegah stunting. Tercatat dalam hasil survey yang dilakukan Unicef adn Universitas Indonesia, tiga kabupaten di Aceh yang tinggi mengalami stunting pada anak. Aceh Jaya, Aceh Timur dan Aceh Besar.



Kita dapat mengurangi stunting dari sekarang dengan mengubah perilaku kebiasaan yang salah saat hamil dan menyusui. Hanya dengan mengkonsumsi tablet FE yang gratis dari puskesmas dan memberikan ASI ekslusif kepada bayi usia 0-6 bulan.

Pemerintah Indonesia sedang menjalankan Program Keluarga Harapan (PHK), dengan memberikan uang tunai kepada ibu dan anak. Setiap ibu dan anak mendapatkan Rp1 juta untuk perbaikan gizi. Sehingga target MDG’S cepat tercapai untuk menaikkan stutus Indonesia menjadi Negara berkembang.


Diperkirakan 7.688.000 anak terhambat. Semua provinsi di Indonesia masih memiliki persentase lebih tinggi Stunting dibandingkan dengan standar WHO 20 % dari masalah kesehatan masyarakat dengan nasional prevalensi 35,6 % (Riset Kesehatan Dasar, 2010). Oleh karena itu, Departemen Kesehatan (Depkes) termasuk pengerdilan sebagai salah satu Prioritas Kesehatan 2010-2014, menargetkan penurunan dari 36,8 % sampai kurang dari 32 %.


Laporan UNICEF pada Anak dan Nutrisi Ibu adalah Sebuah Kelangsungan Hidup dan Pembangunan Prioritas (2009), menunjukkan bahwa di negara berkembang jumlah anak di bawah 5 tahun yang terhambat dekat 200 juta. Dua puluh empat negara menanggung 80 % dari negara-negara berkembang dengan beban stunting, termasuk Indonesia. 90 % dari negara-negara berkembang yang kronis anak kurang gizi (stunted) hidup di Asia dan Afrika. Tingkat stunting di Asia sangat mengkhawatirkan (36 %), khususnya di Asia Selatan di mana sekitar setengah dari anak-anak terhambat pertumbuhan.[]




Perangkap Ikan Tradisional


Tuasan atau apong sebutan untuk daun lontar yang digunakan nelayan untuk membuat sarang ikan sebelum dijala dengan pukat di tengah laut.  Fungsi daun tersebut  untuk mengundang ikan kecil bersarang pada daun tesebut agar ikan besar yang diinginkan nelayan mencari makan disarang itu. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) atau dalam bahasa Aceh disebut Oen Iboih ini jenis pinang-pinangan yang mempunyai jenis daun paling tahan terhadap air.



Daun lontar ini biasanya harus dipesan dari gampong yang berdekatan dengan gunung atau hutan. Para pemilik kapal  sudah biasa memesan pada abang becak untuk mencarikan daun ini hingga ke Aceh Besar. Sebatang daun lontar ini dihargai Rp 3 ribu, nelayan biasanya membutuhkan paling tidak 100 batang yang di benamkan ke tengah laut.

Tuasan ini akan diikat pada tali setebal 32 mili seperti jemuran baju sepanjang paling tidak 30 meter. Salah satu kapal nelayan di pelabuhan Lampulo misalnya, KM Hikmah Fajar biasanya menurunkan tuasa sepanjang 90 meter.untuk membenamkan tuasan ini sampai ke tengah laut harus membenamkan sebanyak 20 buah. Sauh ini ditempah khusus dari semen yang dicor untuk pemberat.

Setidaknya para awak kapal harus menyediakan tali 300 meter untuk mengikat sauh sampai ke dasar laut. Persisnya, tuasan akan berada pada pertengahan air laut.setiap kapal akan menandai tuasan mereka dengan titik Global Positioning System (GPS) untuk memudahkan mencari tuasan mereka.


“Tuasan akan ditinggalkan sedikitnya tiga hari, menunggu daun tuasan ini berbau anyir dan menempel lumpur,” kata Saiful seorang nelayan di Lampulo. Menurutnya, ikan-ikan kecil  yang ia sebut bibit, akan berdatangan dan bersarang pada tuasan tersebut. Sehingga ikan besar akan berdata ngan memangsa ikan kecil tersebut.

Setelah ikan-ikan besar ini berdatangan, barulah para nelayan melemparkan pukat pada tuasan tersebut. “Waktu mengambil ikan harus di terangi lampu tembak agar terang dan ikan tidak pindah dari tuasan,” kata Saiful menjelaskan. Ikan paling senang jika suasa air terang apalagi saat terang bulan. Saat purnama nelayan mengaku banyak mendapatkan tangkapan ikan. Lampu yang digunakanpun tidak tangung-tangung. Untuk kapal  sejenis KM Fajar Hikmah ini, ia membutuhkan 18 buah lampu dengan menggunakan mesin khusus yang menggunakan bahan bakar solar.

Untuk keperluan perlengkapan tuasan, pemilik kapal harus mengeluarkan modal puluhan juta untuk satu set tuasan. “Satu tuasan seperti kapal kami ini butuh dana Rp 70 juta termasuk upah,” kata Heri, seorang awak kapal. Heri mengatakan, biasanya kapal tempat ia bekerja itu, melempar tuasan ini sejauh 500 mil dari daratan.

“Tuasan ini paling tahan 2 kali melaut saja, paling tidak 15 hari sekali diganti setengahnya. Karena sudah ada bau anyir jadi masih diperlukan untuk memancing bibit,” jelasnya. Setelah ikan besa yang diinginkan nelayan berhasil terjaring dalam pukat, giliran daun lontar untuk menjadi pemancing agar ikan pada tuasan pindah ke daun lontar tersebut.

Para nelayan di Aceh masih tergantung pada penangkapan secara tradisional seperti itu. Namun jika pemilik kapal tidak memiliki modal besar mereka hanya menanggkap ikan dengan menggunakan pukat saja. []




Keukarah, kue tradisional Aceh

Keukarah, kue tradisional khas Aceh yang hanya dijumpai saat acara adat Aceh saja. Kue ini telah bertransformasi dalam berbagai bentuk sesuai dengan keperluan. Kini kue ini menjadi pilihan oleh-oleh bagi wisatawan.

Hamia mengaduk perlahan adonan tepung dan sedikit ciran gula. Ia memasukkan tepung cair itu ke dalam cetakan dari tempurung yang ia gantung tepat diatas kuali berisi minyak panas. Dari lubang-lubang halus, adonan tadi jatuh bertekstur seperti mie dan berbentuk bulat. Dengan cekatan Hamia melipat dua bundaran didalam minyak tadi lalu memberi lengkungan seperti sabit.

"Sekarang orang suka beli keukarah, kalu dulu orang taumya beli bhoi aja," aku Hamia, pemilik gerai Kana Kue di Desa Lampisang, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Ia mengaku pembeli yang paling banyak membeli keukarah adalah wisatawan. Khususnya dari luar Aceh. Biasanya, mereka langsung menanyakan makanan khas yang unik.

Bentuk kue keukarah, kini telah banyak dibuat unik sesuai dengan keperluan. Seperti acara tradisional, masyarakat Aceh masih menggunakan bentuk lama yaitu bentuk bulan sabit. Sementara untuk oleh-oleh, lebih banyak permintaan bentuk bulat panjang. bentuk segitiga seperti kue sepit, lebih diminati saat lebaran.

Hamia menjelaskan, kue keukarah yang dibuat oleh pedagang di Lampisang tidak menggunakan banyak gula. "Jika banyak gula kue akan lebih keras dan tahan lama," lanjutnya. kue keukarah yang dipasarkan di Lampisang tersebut rata-rata bertahan 15 hari. Namun kue yang dibuat di luar Lampisang tahan sampai 3 bulan masa expired

"Bukan hanya gula saja yang berpengaruh, garam yang hanya sedikit saja, juga berpengaruh pada adonan tepung," katanya. Garam ini akan berpengaruh saat di goreng. Menurut Hamia, bila kebanyakan garam akan menjadi cepat gosong, hangus. Takaran yang dipakai oleh Hamia adalah 1 kilogram tepung beras, 2 gelas gula pasir, 4 gelas air dan diseberi sejumput garam untuk menambah rasa.

Harga untuk setiap talam yang menghabiskan tepung 1,5 kilo ini, ia menghargai Rp. 120 ribu. Sedangkan untuk fijual eceran di kedainya, ia menjual Rp. 5 ribu. "kami kurang stategis, kalau tidak lebih banyak lagi lakunya," keluhnya. Kedai Kana Kue milik Hamia memang terletak paling ujung diantara 17 kedai lain yang berjualan disepanjang jalan Banda Aceh-Meulaboeh. Tujuh tahun yang lalu, hanya tiga kedai kue tradisional yang berjualan di sini.

Para penjual kue tradisional di Lampisang ini pun, sudah memiliki koperasi. Koperasi Bungoeng Jaroe, yang memberikan kemudahan kepada anggota untuk melakukan peminjaman modal. "Kami juga butuh modal untuk memutar uang sebagai modal buat kue lagi," katanya. Kedai kue milik Zainal menjual 50 jenis kue tradisional khas Aceh.

Walaupun kue ini hanya diminati wisatawan dan perayaan tententu saja, pembuat kue tradisional masih banyak semangat untuk terus menjual kue khas Aceh yang mulai dilupakan oleh masyarakat Aceh sendiri. []


Kamis, September 19

Kangen Mandiin Rosa



Mamalia besar ini baru saja melahirkan seorang bayi betina bernama Rosa atau Sarah 18 September 2012 lalu. Berbondong-bondong para wartawan dan fotografer datang untuk meliput bayi comel ini. Setelah aksi publikasi tersebut, ramai wisatawan melihat keunikan alam dan potensi wisata tracking gajah.

Camp gajah milik Conservation Respons Unit (CRU) ini menjadi tempat destinasi wisata tracking gajah menjadi ramai. Wisatawan akan berjalan-jalan menyusuri hutan dan sungai dengan menggunakan tiga ekor gajah. Yang dapat membawa 6 orang. Gajah ini dilengkapi pelana untuk dua orang yang dipandu oleh pawang disebut Mahot (Pawang).

Wisatawan yang biasanya datang dari Kota Banda Aceh akan menghabiskan waktu setidaknya dua hari untuk berlibur ke CRU yang terletak di desa Sarah Deu, Kecamatan Ligan. Kabupaten Aceh Jaya.

Selain tracking, wisatawan akan ikut memandikan gajah, hewan yang suka air tersebut. Saat pagi dan sore hari keenam gajah milik BKSDA ini,dimandikan di sungai tepat dibelakang Camp CRU.
Wisata gajah tersebut dapat menjadi wisata pendidikan bagi siswa sekolah untuk lebih mengenal hewan mamalia tersebut. Melihat tingkah gajah yang melakukan latihan dan bermain air besama gajah-gajah disini.

Jika memiliki waktu luang, wisatawan akan diajak mengunjungi air terjun yang berjarak kira-kira 1 kilometer dari camp dengan cara tracking pula. Anda akan merasakan sejuknya tinggal di perbatasan hutan sambil menikmati kicauan burung yang menjadi habitat di sekitar cam gajah ini.
Saat malam, wisatawan akan menikmati suasana sunyi dan nyaman di perbatasan antara desa dan hutan lindung. Mereka akan disuguhkan dengan ikan hasil tangkapan masyarakat setempat. Keurling, Ikan khas daerah tersebut menjadi menu khas yang dimasak menjadi asam keueng.

Setahun lebih dua hari setelah Rosa lahir. Kini camp CRU tidak lagi beroperasi bersama gajah. Hanya Ranger, sebagai pawing hutan yang tinggal di sana. Akibat kematian seekor gajah liar solitare akibat diracun warga. Ranger dan warga berkonflik. Seperti pemberitaan media, gajah jantan liar tesebut mati akibat diracun. Gajah ini adalah ayah dari Rosa, gajah kecil. Ia sering turun ke camp CRU dan kebun warga. Terakhir gajah ini merusak perkebunan sawit yang berada diatas camp tersebut. Namun bukan itu yang menyebabkan gajah ini diracun. Gading gajah ini telah mengakibatkan konflik antara yang manusia yang menyebabkan camp CRU kini ak ada lagi. Masyarakat setempat lebih membela oknum yang membunuh dan menjual gading. Sehingga mereka memusuhi Ranger dan penghuni CRU.

Tak ada lagi wisatawan yang datang mermain dengan gajah, tak ada lagi edukasi untuk anak sekolah tentang gaah di sana. Warga setempat meresa benar dengan tingkahlakunya dengan membunuh hewan yang hampir punah ini, dengan kedok sepempitan ekonomi.

Komunitas pun sibuk mencari dukungan untuk mengecam perbuatan warga, hingga melapor ke presiden melalui social media. Namun tidak ada kelanjutan untuk criminal yang dilakukan warga, tersiar gosip dari mulut warga yang lain aparat ada main dalam penjualan gading tersebut. Akhirnya mereka mengumpulkan dana untuk gajah yang kini berada di PLG Sare, Aceh Besar.



Rabu, Juni 5

Mengubah Prilaku, Kurangi Jumlah Sampah di TPA


Banda Aceh - Sang surya baru saja bangkit dari balik gunung Seulawah. Langit masih meremang, saat burung baru bangun dari mencicit di dahan. 

Segeromban pria naik ke dalam dump truk untuk memulai baktinya pada kota. Segerombolan lagi diturun dari mobil pick-up satu persatu pada ruas jalan yang sudah ditentukan. Membawa peralatan sesuai dengan tugas masing-masing.

Saat gerombolan lain bersiap memulai hari dengan kegiatan amal besar hari ini, para pekerja ini tak peduli dengan gelar hari yang dinamai dunia. Saat warga kota yang mereka manjakan melakukan penghijauan. Para pekerja ini tetap membersihkan kota seperti biasa. Dengan kaos lusuh biru atau oren, seragam ini kerap dikenakan bersama sarung tangan, penutup muka yang hanya menyisakan biji mata. Entah untuk menyaring bau, entah untuk menghindari debu jalanan. Mereka setia bekerja walau bukan dihari lingkungan hidup sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. 

Truk biru berlalu-lalang melintasi Kampung Jawa tempat para pekerja ini menuntaskan tugasnya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini kini menjadi gunungan sampah tempat sisa pembuangan seluruh warga Kota Banda Aceh dan termasuk Aceh Besar. 

Sebanyak 168 ton sampah setiap hari dikumpulkan dari 224 ribu jiwa jumlah penduduk Banda Aceh, ditambah penduduk Aceh Besar disekitaran kota yang sampahnya dibuang Ke TPA tersebut. Untuk Banda Aceh saja terdapat 90 desa dari sembilan kecamatan. 

Pembuangan dari rumah tangga merupakan sampah terbanyak yang dikumpulkan. Selebihnya sebanyak 15 persen di pilah di TPA dan dicacah yang berasal dari sampah organik. Cacahan sampah ini akan digunakan sebagai penutup sampah atau bio filter yang membantu pembusukan. Belum lagi hari besar sepeti megang, puasa dan jika ada demo, sampah bisa mencapai 200 ton per hari. 

"Paling banyak sisa makanan rumah tangga yang tergolong sampah organik. Selebihnya plastik belanjaan rumah tangga," kata Kepala Dinas Kebersihan Kota Banda Aceh, Jalaluddin, Selasa (4/6/2013). Padahal sampah ini masih bisa dimamfaatkan dan dijadikan kompos oleh masyarakat, katanya. 

Selama ini pihak Dinas Kebersihan Dan Keindahan Kota Banda Aceh sudah mengsosialisasikan kepada warga secara door to door untuk kampanye. Dinas mengenalkan kepada warga program 3R yaitu Recycle (daur ulang), Reuse (menggunakan kembali), dan Reduce (mengubah bentuk). Melalui pelatihan dan pemahaman tersebut sampah Banda Aceh dapat dikurangi setiap tahunnya. 

Setidaknya 17 persen sampah berkurang karena pola hidup warga kota yang sedikit berubah. "Masyarakat sudah mengerti bagaimana mengolah sampah menjadi barang yang dapat digunakan kembali. Walaupun masih sedikit nilai ekonomisnya," ungkap Jalal, sapaan Kepala Dinas yang belum lama menjabat itu. 

Pada tahun 2012 dinas membutuhkan dana sebanyak Rp1,5 miliar untuk operasional dan pemeliharaan TPA ini. Dana ini dibutuhkan untuk fasilitas pengelolaan sampah organik, pemamfaatan gas landfill dan intermediate Treatment Facility (ITF) sebagainpembangkit listrik. 

Kota Banda Aceh telah masuk dalam nominasi Adipuran Kencana, penghargaan lingkungan dan kota bersih. Hal tersebut karena juri menilai Banda Aceh memiliki potensi mendapatkan gelar tersebut. Pantas jika kota yang telah menerima tiga kali Adipura berturut-turut ini dilirik dan dimotivasi untuk menata kota hijau dan warga sadar lingkungan. 

Saat sosialisasi nominasi Adipura Kencana tersebut, seorang peserta yang diundang Pemko dari Komunitas Hijau meminta kepada walikota. Agar Pemko dapat memberikan intervensi kepada sejumlah supermaket di Banda Aceh untuk menggunkan kantong hasil daur ulang. Walikota Mawardi menyambut baik usulan komunitas masyarakat tersebut. 

TPA Kampung Jawa di Kecamatan Baiturrahman ini dibangun pada tahun tahun 1994 sebagai upaya kota Banda Aceh untuk meraih penghargaan Adipura. Sistem TPA yang sudah memenuhi syarat kota bersih dengan sistem operasional Sanitary Landfill sejak 2009, memudahkan pengolahan sampah yang bertujuan agar tidak mencemari lingkungan. "Memang TPA di kampung jawa belum terlalu ideal. Tetapi kita akan pindah ke TPA di Blang bintang yang lebih baik lagi," ungkapnya. 

Kini TPA kampung Jawa yang memiliki luas 12 hektare itu telah bertambah ketinggian menjadi 12.6 meter Di Atas Permukaan Laut (mdpl) dari ketiggian minimum awal tidak diketahui, yang pasti TPA tersbut sangat rendah dari permukaan laut. Titik ketinggian paling rendah di Banda Aceh adalah 0.8 mdpl. 
Sejak gelombang tsunami menerjang Banda Aceh, TPA ini telah rata dengan tanah dan mulai diisi dengan sampah tsunami dan sampah warga kota dan sebahagian Aceh Besar hingga sekarang. 
Dinas Kebersihan Kota Banda Aceh telah membebaskan lahan baru untuk pembuangan sampah di Blang Bintang, Aceh besar. Seluas 200 hektare dipersiapkan untuk mengganti TPA kampung Jawa. "Kalau bisa TPA baru ini untuk selama-lamanya," pungkasnya. 
Pemko telah menyerahkan sebundel rancangan qanun tentang sampah yang sudah berada di tangan DPRA/Panlek. Ia berharap adanya perubahan prilaku dikalangan masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar agar kuota sampah dapat dikurangi setiap saat. 

"Prilaku mayarakat untuk mengolah sampah memang belum bernilai secara ekonomis. Secara bisnispun belum menguntungkan. Sehingga pemerintah masih mengsubsidi untuk lingkungan," akunya. 

Ia yakin dana yang dibutuhkan untuk biaya operasional akan terus bertambah. Namun dapat dikurangi jika kita lebih sadar dan peduli akan lingkungan. [Yanti Oktiva] 

Nilai Rencong Sebagai Benda Pusaka


Ia berdiri tegak melawan angin musim barat di ujung tebing kawasan Lamuri. Memicingkan mata, memastikan kapal asing benar-benar akan tiba hari ini. Sesekali ia menabik untuk menghalau silau dari matahari yang sudah naik. 
Ia berbalik kearah pasukannya yang siap menunggu aba-aba. Ia mengangkat rencong seraya berteriak, "Kaphe sudah datang, kita akan berperang. Pasukan siap ????, " tanya laksamana, Malahayati. 

Rencong diangkat bersama gemuruh sahutan suara para wanita pasukan Inoeng Balee dalam suatu perlawanan menentang Belanda yang akan berlabuh di Dermaga Kreung Raya. 

Laksamana Malahayati adalah pejuang Aceh masa kolonial Belanda ingin menguasai Aceh. Dengan rencong, senjata kebangga milik bangsa Aceh, ia mempersenjatai ratusan perempuan yang berada dibawah panji Inoeng Balee yang bersarang di bibir tebing Kreung Raya. Rencong merupakan senjata orang Aceh untuk berperang dan simbol agama dan budaya masyarakat.

Dari segi bentuk, rencong memang didesain berdasarkan tulisan Basmallah, yang mencerminkan kepercayaan masyarakat yang fanatik terhadap ajaran Islam. 

Zaman berganti, fungsi rencong semakin berbeda mamfaat dan tujuan. Menyematkan rencong di pinggang merupakan budaya bagi kaum lelaki zaman setelah kolonial berlalu. Setelah bangsa penjajah pergi, senjata ini berfungsi sebagai lambang keperkasaan. 
Memasuki zaman kemerdekaan hingga sekarang, kita mendapati rencong sebagai simbol budaya dalam berbagai acara. Rencong hanya dipakai saat mengenakan pakaian adat Aceh dalam even-even tertentu. 

Kini rencong hanya diminati oleh kalangan tertentu. Dari kampung pembuat rencong, Baet Mesjid, Aceh Besar, pembeli rencong kini terbanyak dari wisatawan. 

Dapat dipastikan dari pemesanan rencong sepanjang tahun hanya untuk souvenir. "Toko sering pesan untuk souvenir, kalau ada pesanan untuk pejabat paling sampai setahunan," ujar pengrajin rencong, Dani, saat saya temui di tempat kerjanya, Mei 2013. 

Gampong Baet dikenal sebagai wilayah penghasil rencong utama di Aceh. Pengrajin menempah rencong untuk memenuhi permintaan wisatawan yang dibeli sebagai buah tangan.

Para kaum lelaki Gampong Baet Mesjid, menyelamatkan budaya Aceh dengan menjadi pengrajin rencong untuk meneruskan tradisi nenek moyang. Sekitaran 100 orang yang kini berprofesi sebagai pengrajin di Gampong Baet Mesjid. Masih ada dua desa lagi yang kaum lelakinya juga membuat rencong yaitu Gampong Baet Lam peuot dan Baet Meusagoe. 

Setelah berkunjung ke desa pengrajin rencong, saya mengetahui, benda pusaka ini kini dibuat dari berbagai barang bekas. Media tempat saya bekerja menolak sudut penulisan rencong dengan tema "rencong dari barang bekas". Mungkin dengan alasan tidak mau menjatuhkan citra benda ini yang memiliki nilai budaya. Beberapa teman jurnalis juga tidak setuju nasib rencong yang menjadi kebanggaan itu, saya jatuhkan maruahnya. Tetapi adakah yang peduli dengan keberlangsungan rencong dan murahnya upah para pengrajin? Sehingga mereka harus mengganti dengan semua barang bekas yang disulap menjadi bernilai dari segi ekonomi dan budaya. 
**

"Bahan kuningan untuk mata rencong saya beli di tukang butut dalam berbagai bentuk dan harus dileburkan lagi," kata Dani. 

Kemudian Kuningan ini dibawa pulang ke gampongnya, untuk dileburkan dan dicetak sesuai ukuran. Tempat cetak ya pun hanya ada di Gampong Baet tersebut. "Kuningan bekas kami beli perkilo Rp40 ribu. Sekilo paling dapat 10 mata rencong," jelasnya. 

Sementara gagang rencong terbuat dari tanduk kerbau, yang diperoleh Dani dari sejumlah pasar daging di Aceh Besar dan Banda Aceh. "Sepasang tanduk kerbau biasanya dijual dengan harga Rp30 ribu," ungkap lelaki yang telah berprofesi sebagai pengrajin sejak lulus SMA. Harga tersebut biasanya berukuran 30 hingga 40 cm dihuting dari panjang tanduknya. Bukan hanya gagang yang menggunakan tanduk, sarungnya pun 99 persen terbuat dari tanduk, sisanya dari lem dan plastik berwarna putih susu sebagai warna padanan warna. 
Plastik ini berasal dari AC bekas, Personal Komputer (PC) bekas dan Kibas Angin Bekas dengan warna putih sebagai pengganti gading gajah. Gading gajah sendiri sebagai lambang keperkasaan raja Aceh yang termasuk, Sultan Iskandar Muda. 

Dani mengaku, Ia tak pernah sepi pesanan dari beberapa toko souvenir di Banda Aceh. "Kami di sini kerja tergantung pesanan, kalau banyak yang pesan, kadang harus kerja hingga malam," ujarnya saat ditemui di tempat pembuatan rencong didepan rumahnya. Jika banyak even wisata dan budaya, Dani akan membuat rencong lebih banyak, terkadang dibantu oleh keponakannya untuk menghaluskan rencon tersebut. 

"Tahun ini pesanan agak sepi, pameran pun sudah kurang dari tahun-tahun sebelumnya," pungkas lelaki asli Baet, Aceh Besar ini. Memang harus begitu kehidupan para pengrajin, jika peminat benda asal Aceh saja diminati orang luar Aceh. [Yanti Oktiva]



Rabu, Maret 13

Menggali Kreatifitas di Kraftologie


Jika memiliki imajinasi kreatifitas, kain perca dan bahan bekaspun dapat menghasilkan uang. Kreatifitas adalah modal utama yang diperlukan untuk menghasilkan suatu barang yang akan dijual.

Riva Syamsuddin, ibu muda yang membuka Kraftologie untuk menjalankan usaha handmade (buatan tangan) . Toko ini disulap menjadi tempat yang menarik bayak orang untuk datang lagi ke rumah kraft miliknya tersebut.

Kerajinan tangan saat ini menjadi barang yang menarik dan sangat diminati dikalangan kaum ibu. Produk hasil buatan tangan ini memang menjadi trend untuk mempercantik rumah. Riva tidak mensia-siakan kesempatan untuk membantu para ibu belajar san membuka bisnis baru di rumah.

Fashion Camp di Kraftologie Lampriet, Banda Aceh
Bukan hanya menjual hasil kerajinan tangan, toko yang lumrah seperti rumah menjadi tempat usaha, juga dijadikan sebagai kelas untuk mengajarkan berbagai kerajinan tangan kepada kaum ibu dan anak-anak.

Sejak sembilan bulan lalu Riva membuka berbagai kelas kerajinan tangan. Kelas ini diikuti mulai dari anak-anak umur empat tahun sampai ibu-ibu rumah tangga. Setiap hari aja saja kelas yang dibuka untuk kaum perempuan. Namun setiap sabtu, kelas dibuka khusus untuk anak-anak.

Saat ditemui Rakyat Aceh, Riva sedang memantau anak-anak yang belajar membuat boneka dari kaus kaki. Terlihat 10 orang anak-anak sangat antusias memperhatikan cara membuat boneka. Riva dibantu oleh dua orang guru yang masih berstatus mahasiswa untuk mengajarkan murid ini.

“Setiap kelas yang dibuka akan ada gurunya sendiri, yang memang hobi kerajinan itu juga suka anak-anak,” kata Riva, pemilik kraftologie. Ia mengaku, saat ini kelas yang paling diminati adalah painting, melukis di atas baju t-shirt dan tas kanvas. Disini anak-anak akan diberi kesempatan untuk menciptakan sendiri jenis gambar yang diinginkan.

“kita biarkan anak-anak menggali kreatifitas yang ada dalam diri mereka,” jelasnya. Biaya untuk setiap kelas memang berbeda, dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 300 ribu.

Selain itu, ada pula kelas yang unik untuk membuat anak terasa sedang bermain. Kelas Cupcake misalnya, anak akan dibiarkan untuk menghias bolu kecil dengan kreasi mereka. Setelah selesai bolu mungil tersebut akan dimakan lagi oleh muridnya. “Anak-anak akan dibebaskan untuk mengekplorasi earna dan yang penting mereka fun,” ungkap Riva.

Kraftologi layaknya rumah yang sangat nyaman, ada usaha, produksi dan training. Kraftologie adalah sebuah rumah kreatifitas, tempat anak-anak belajar kerajinan tangan. Berbagai kelas disediakan untuk menampung kreasi anak-anak.

Sementara kelas kerajinan untuk kaum seperti kelas merajut, sulam, kelas wiring untuk belajar membuat bros dari kawat yang dipadu dengan batu dan manik. Ada juga kelas perca dengan memanfaatkan kain perca menjadi suatu barang yang dapat dijahit menjadi sesuatu yang berguna.

Menurut Riva, banyak murid yang sudah belajar menjadikan hobi kerajinannya menjadi usaha. Mereka tidak bersusah payah untuk membeli bahan-bahan produknya, karena toko Kraftologie menjual perlengkapan dan kebutuhan hobi ini. Dari benang, manik hingga bahan untuk dompet yang sudah dibuat dalam satu paket.

Selain itu, Kraftologie juga menjual hasil buatan tangan dari berbagai kerajinan tangan seperti dompet dari kain perca, bros, selimut bayi hingga bedcover yang unik dengan harga yang terjangkau.

Selama ini publikasi yang dilakukan Riva sekedar dari mulut ke mulut. Namun ia terkadang mempublikasian informasi di Facebok dan twitter. Walaupun belum banyak warga Banda Aceh yang belum tau keberadaan toko ini, ia mengaku pemasukannya sudah mencapai target. Saat ini promosi dan penyebaran info yang paling aktif melalui group Blacberry.

Sesekali Riva mengadakan Tea Time, dimana ajang ‘ngumpul’ dan memberikan kesempatan mendapatkan diskon hari itu. Strategi marketing unik ini dilakukannya untuk mengajak pelanggan atau murid untuk reuni dan hanya sekedar ‘ngeteh’ bareng.

“Saya tidak begitu mementingkan omset, yang penting saya senang menjalani hobi saya ini,” aku Riva. Ia optimis usaha ini akan terus meningkat, karena prospeknya semakin bagus terlihat dari peminat kelas kerajinan dan penjualan produk.
Penjualan produk di toko ini banyak peningkatan, malah ia kekurangan barang karena banyaknya pesanan. Momen seperti lebaran, paling banyak penjualan untuk persediaan menyambut hari besar ini.

Tidak hanya usaha saja yang ia harap lebih berkembang, kelas untuk kerajinan juga akan lebih banyak yang tau agar orang bisa menikmati hobi yang lebih kreatif.

Kraftologi sering mengadakan pameran atau pelatihan pada acara-acara yang berhubungan dengan kerajinan. Ia pernah memberi pelatihan kertas daur ulang pada acara Dekranas.

Kedepan ia berharap, kelas kerajinannya akan lebih banyak anak yang ikut. Agar anak-anak lebih kreatif karena akan lebih banyak hal yang dapat dilakukan anak. Sehingga anak tidak hanya menunggu dari orang tua.

Dengan kreatitas seperti ini, anak akan lebih percaya diri dengan apa yang telah dihasilkan di kelas. Terkadang ia mendapat telfon dari ibu muridnya, karena nilai keterampilan anak meningkat di sekolah.

Riva mengaku, masih kewalahan mengelola kelas karena banyak juga murid meminta lagi kelas tambahan atau kelas kerajinan tangan yang belum pernah dibuat di Kraftologie. Bisnis dengan latar belakang hobi tersebut sangat dinikmati okeh Riva untuk mengisi waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga.

Kamis, Maret 7

Kerkoft, Jembatan Sejarah Aceh


Museum diam yang bertabur nisan, sebuah pojokan tanah di tengah kota yang menjadi jembatan masa lalu, masa sekarang dan masa datang. Saksi yang menjadi bukti kehebatan pejuang Aceh saat melawan penjajah. Tentara Belanda yang mati pada masa perang Belanda ini disemayamkan di sini, Belanda menamakannya Kerkorf. Orang Aceh menyebutnya “Kerkoft Jrat Kafe”.

Sebanyak 2200 nama terpajang pada tembok gerbang, dibagi menurut tempat dimana tentara ini gugur. Gerbang tersebut berukir nama-nama tentara yang gugur di medan perang melawan masyarakat Aceh menjadi dokumentasi sejarah. Sejak tahun 1873 hingga 1942 adalah perang Belanda di Aceh yang memakan banyak  nyawa dan harta.

“No document, no histori,” ujar Drs. Rusdi Sufi, Sejarawan yang kini berkantor di dalam kawasan kerkort tersebut. Kerkoft merupakan jejak aktifitas pada masa lampau berupa benda termasuk dokumen yang menjadi bukti sejarah kepada dunia. Kerkoft ini kuburan militer tentara Belanda dan KNIL, kedua terbesar. Kuburan militer pertama berada di negara Belanda sendiri.

Dalam kitab Bustanul Salatin yang dikarang oleh Syaikh Nuruddin al Raniri, Kerkoft pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda digambarkan sebagai sebuah medan atau padang yang luas. Tempat Putro Phang, Istrinya melepaskan pandangan setiap ia berada di atas Gunongan.
Memasuki masa peperangan melawan Belanda, setiap meternya terdapat kuburan, padat, setiap ruang tanah digunakan untuk mengubur jasad warga asing yang meninggal saat perang Belanda terjadi.

Sejak awal ekspedisi  pertama tahun 1873 hingga 1874, tentara Perang Kerajaan Hindia Belanda  (KNIL) berdiam diri di Krueng Aceh. Selama 70 tahun, 1/3 tentara Belanda ini gugur di Aceh dikubur di sini.

Menurut Rusdi, tanah ini adalah sebuah kebun milik seorang yahudi yang tinggal di Aceh. Borhouwer adalah pemilik tanah yang menghibahkan menjadi kuburan tentara militer Belanda. Yang kemudian tempat ini kita kenal dengan Gampong Blower. Tepatnya di Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

Tidak semua tentara yang gugur sempat dikubur disini, terkadang kuburan mereka berada di wilayah Aceh lain dan tidak disemayamkan di Kerkoft. Namun nama mereka turut terpampang di senarai nama pada gerbang masuk. Saat perang masih berkecamuk, tidak ada nisan yang menyatakan nama atau tempat. Penanda kuburan hanya berupa nomor yang di tulis pada pelat kayu dan di pancang di atas kuburan.

Namun, teman-teman tentara yang masih hidup ini, mengumpulkan uang untuk membuat nisan yang layak, agar nama dan tempat dapat di cetak pada nisan-nisan tersebut. Terkadang pada satu nisan terdapat banyak nama dalam satu resimen atau kompi.

Tidak semua penghuni Kerkoft adalah tentara, ada yang berprofesi sebagai dokter, pastor dan pastinya pemilik tanah tersebut. Wanita dan anak-anak asing korban perang juga disemayamkan di sini. Bahkan penduduk asing yang meninggal karena berbagai macam penyakit juga mendiami Kerkoft. Seorang gubernur sipil Aceh asal Belanda, Mr. A Ph. Van Aken juga memiliki nisan di Kerkoft ini. Ia berjasa telah memugar Masjid Raya dengan menambah dua kubah pada mesjid raya Baiturrahman.

Namun, terdapat seorang pangeran muda Islam di dalam Kerkoft. Ia yang dieksekusi karena difitnah berzina, sehingga ayahnya menghukum mati dan menguburkan ia terasing dari keluarga. Podjoet Meurah Pupok adalah anak dari Sultan Iskandar Muda, raja yang berkuasa saat itu. Nisan Podjoet sangat berbeda dengan nisan penghuni lainnya. Nisan ini terbuat dari batu kapur yang berukir seperti layaknya orang islam pada masa itu. Sedangkan nisan lainnya terbuat dari semen dan marmer yang telah tersentuh modern.

Dari nama Podjoet lah, yang berarti pangeran muda, sebuah yayasan dibangun untuk memugar kerkoft menjadi museum peninggalan Belanda. Setelah lama perang mereda, tanggal 29 Januari 1976, seorang kolonel pensiunan tentara Belanda bernama Brendgen, berkunjung ke Aceh untuk melihat kondisi Aceh dan kuburan tersebut. Ia lah yang berinisiatif mendirikan sebuah yayasan untuk memugar dan membangun kembali Kerkoft agar dapat menjadi sebuah dokumen bersejarah. Yayasan Stichting Peutjut Found didirikan untuk menyerap dana dari negeri Belanda yang dibutuhkan untuk membangun dan merawat kuburan tersebut.

Brendgen juga yang berusaha memindahkan jasad J.H.R Kohler, jendral yang mati di tembak di depan Masjid Raya. Pada tahun 1978 jasad Kohler yang semula berada di Batavia (kini Jakarta), setelah 105 tahun dipindahkan agar berkumpul dengan para tentaranya di Aceh. Atas permintaan masyarakat Aceh, kuburan ini dikuburkan di Peutjut Kerkoft dengan upacara militer saat itu. Permintaan masyarakat ini untuk membalas kebaikan pemerintah Belanda yang telah membangun dan merawat kuburan Abdul Hamid yang bertugas sebagai Duta Aceh di Belanda pada tahun 1602.

Semasa Jepang menduduki Aceh, banyak nisan di Kerkoft yang dihancurkan oleh orang tak dikenal. Nisan petinggi yang memiliki gelar khusus terdapat Patung dada atau patung wajah di tembok nisan, hilang. Sebuah patung dada yang terbuat dari perunggu juga raib. Seperti milik seorang tentara KNIL, Letnan H. M. Vis adalah tentara muda yang berbakat dan mendapat penghargaan dari Raja William. Raja Belanda saat itu memberi penghargaan dengan membuatkan ia patung dada dengan wajah  Vis. Kini hanya tersisa pilar dan dokumen pada nisan itu.

Sebelumnya Kerkoft juga pernah dipugar oleh gubernur Aceh Abdullah Muzakir Walad (1967-1978). Hingga kini, pemerintah Aceh mendapat bantuan dana setiap tahun untuk memugar dan mengurus Kerkoft. Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota setiap tahun mengecat dan bertanggung jawab merawat Kerkoft tersebut.

Yayasan juga mencetak buku panduan Kerkoft berdasarkan sejarah yang diterjemahkan dalam tiga bahasa yaitu bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia. Buku panduan ini biasanya dijual untuk wisatawan.

“Yayasan  Stichting Peutjut Found sekarang kekurangan dana. Karena orang Belanda yang perduli tentang sejarah sudah tidak ada lagi,” aku Rusdi. Menurutnya generasi muda di Belanda menilai, tidak terlalu penting mengurus kuburan di negri orang.

Sebagai salah satu perwakilan dari Yayasan Stichting Peutjut Found yang berada di Aceh, ia masih peduli akan sejarah. Sebagai dosen sejarah dan dosen bahasa Belanda, ia menganggap dokumentasi yang ada pada kuburan dan gerbang kerkoft penting untuk memperlihatkan kepada dunia, bahwa bangsa Aceh pernah menumpaskan penjajahan di tanahnya. “Walaupun Aceh sempat dikuasai tetapi tidak pernah ditaklukkan,” katanya.

Rusdi berinisiatif untuk meminta kepada Depan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) agar menganggarkan dana pemugaran Kerkoft. Sehingga peninggalan sejarah ini menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh. “Kerkoft merupakan aset pariwisata yang harus dikembangkan dan dijaga,” ungkapnya. Ia mengatakan, DPRA telah memberi respon yang baik dan bersedia untuk membantu perawatan kuburan militer Belanda ini.
**