Tampilkan postingan dengan label Lelaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lelaki. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 28

Insomnia cinta Slank

Setelah aku menghentikan rasa
dari mimpi berulang lagi. Kamu ada dalam pelukan di atas kasur merah mu yang kuinginkan. Aku bermimpi saat demam di kamarmu. Saat pacarku sedang jauh. 

Aku berusaha melupakan pesonamu. 
Meski masih ada foto perutmu di dinding hatiku. Setelah aku berusaha menolak rasa rinduku padamu dihadapan dia. Dihadapanmu. Rindu untuk memeluk mu yang tak pernah kulakukan saat mataku terjaga. Saat aku rindu kau menyentuh rambutku saat kau ingin. Rindu saat kau menasehatiku sambil menyentuh bahu. 

Rindu orang dewasa sederhana dan seru. Saat kau rindu. Kau tau aku insomnia. Lalu kau mengisi dengan bahasan serius saat siang enggan diceritakan. Kau tau saat kapan aku rindu. Aku jaga. 
Lalu aku lelap. Kau tau kapankau akan masuk dalam tidur dan jagaku. 

Saat pacarku rindu. Dia membuat aku insomnia. Lalu pergi. Saat aku mencoba tidur. Ingin aku memimpikan pacarku. 

Tetapi yang aku rindu hanya kamu. Dia menciptakan. Kau yang ada. 
Cintaku bagai insomnia saja. Menyiksaku. Datang saat tak tepat. Seperti rinduku padamu. Seperti rindunya padaku. Tubuhku tak dapat kukendalikan. Untuk mencintainya dan melupakanmu lalu kurindukan. 

Aku memiliki selimut tetapi saat terjaga ia berfungsi sebagai guling. Apakah aku harus memiliki guling. Tidak ... Aku butuh penghangat. Aku ingin dipeluk senyawa dengan selimut. Guling membuatku dingin dan kebas. Kau ibarat guling. Pacarku selimut. Berbeda. 

Dia membuat insomnia. Kau obatnya. 
Apa itu cinta ? Cinta memperparah insomniaku. 

Kata slank. Cinta itu chemistry. Aku memilih selimut. 
Cinta itu imajinasi. Aku tak ingin memilih guling. 

Cintai itu puisi. Itu kau
Cinta itu lagu. Itu dia
Cinta itu toleransi. Itu dia
Cinta itu bukan kamu

Kata slank 
Cinta itu Jiwa dan cinta itu ada. Bukan kau. Tetapi dia yang membuat imsomnia untukku. Lalu aku rindu kamu. 

Wahai pacarku, salahkah aku masih merindukan dia saat kau merindukanku? Mau jadi apa cinta ini. 

Jumat, Januari 3

Dia dan Sepatu (Sepatu Part 3)




“A pair of shoes can change your life. Just ask Cinderella !”




Sepatu menurutku mencerminkan si pemakai, memperhatikan sepatu yang dikenakan wanita suatu kegiatan yang kunikmati akhir-akhir ini. Demi mencari seseorang yang cocok dengan karakter sepatu.


**



Tanah masih basah, matari belum menampakkan sinarnya padahal ayam tetangga sudah berkali-kali berbunyi. Aku masih dalam keadaan pening menyalakan rokok menunggu balasan SMS mu.
Aku sudah sampai simpang rumahmu ni. Buka pintu ya !
Sender: Yunda. 3.40 wib.

Aku berdiri di depan pagar, rumahku tanpa penerang di depan lorong. Menunggu kau diantar oleh taxi bandara. Sekejap kau turun dengan berbagai macam tas dari mobil yang bukan taxi, tapi kau menyebut taxi.

“Lho. Katanya naik taxi Yun?,” tanyaku penasaran memastikan.
“Taxi gelap maksudku. Lumayan lebih murah,” ucapnya santai sambil menyeret tas ke dalam pagar. Aku duduk di tembok gorong-gorong tak juga bangun sambil mengisap rokokku. Kupandangi sepatu baru Yunda. Anak ini belanja banyak kayaknya di Medan. Yunda tak sabar menyeret aku juga untuk masuk dan berkali-kali dia menguap. Matanya sudah layu.

Yunda teman ku, tepatnya soulmate yang baru kukenal dua bulan. Kami cocok pada pemikiran, meskipun kami sering ribut saat diskusi. Sok beda pemikiran, ujung-ujungnya kami setuju satu sama lain. Yunda bekerja sebagai guide travel yang menulis di sejumlah media wisata. Dia sering nginap di rumahku karena kemalaman. Kos Yunda punya jam malam, hanya samapai pukul 23.00 wib. Dan sering susah disuruh pulang kecuali aku mendatangkan pacarku untuk mengusirnya.

“Aku beli oleh-oleh buat kamu,” Yunda mulai membuka bungkusan barangnya. Sebuah buku yang ia janjikan bulan lalu dan tambahan sepatu vibram. “Itu bayaran ekstra karena webnya keren,” katanya sambil merem.

Tak lama dia sudah menjajah tempat tidurku sambil mencopot sepatu. Gaya tidur seperti terjungkal, tanpa membuka kaus kaki. Dasar anak jorok. Membuka sepatunya itu sudah biasa, menggantikan baju untuk dia juga sudah pernah. Dia manusia paling malas dan tidak bisa menahan ngantuk dan pipis.

Pagi itu aku putuskan untuk berbagi tempat tidur. Anggap saja bantal guling empuk yang bernyawa. Matari terik menembus gorden tipis lewat jendela. Rasanya mencolok cahaya ke dalam mata. Aku memunggungi jendela untuk melanjutkan tidur. Susah menggerakan badan, aku baru sadar Yunda sudah memeluk setengah dari tubuhku. Kali ini aku jadi gulingnya. Mati rasa.

Kalau sampai pacarku menyaksikan ini, bisa-bisa hilang masa depanku. Aku memacari  Lala, cewek yang manis dan santun. Mana tau dia kalau aku sering berbagi ranjang dengan wanita lain. Meskipun hanya wujud saja Yunda seperti perempuan.
Kamar terasa gerah dan panas, aku tersadar dengan suara SMS masuk di hanphone.
“Aku udah pulang Min, kasurmu terasa empuk tadi,”
Ya iyalah, aku yang kau tiduri bukan kasur Yunda.
**

Aku menjemput Lala ke Klinik tempat dia bekerja. Setelah hampir 2 jam menunggu akhirnya dia selesai bertugas. Lala mengajak Makan malam di rumah temannya sesama dokter. Selama ini aku selalu menolak, karena selalu saja tidak nyambung dengan pembahasan teman-temannya. Kali ini biarlah aku menyenangkan hati Lala. Sebuah restoran romantic menunggu kami dengan dua orang temannya. “Sayang, ini double date, hanya kita ber-4. Aku mau kamu nyaman dengan makan malam ini ya,” ujar Lala dengan lembut.

Sepanjang makan malam, tidak ada pembahasan yang dapat aku tanggapi. Mereka asik sendiri dengan kisah lama yang tak kumengerti alur pembicaraannya yang agak kecewek-an. Temannya seperti tidak ingin aku masuk dalam pembicaraan. Akupun sibuk meladeni chat Yunda yang tanya kunci rumah. Gawat. Dia pasti mau menginap lagi. Lama-lama bisa tak tahan imanku dibuatnya.

Kami pulang dari restoran menuju ke rumahku dengan mobil Lala. “Motornya besok saja diambil. Kamu kenapa tadi asik sendiri sama HP,” Lala tampak kesal. Aku mencoba menjelaskan, tapi tetap saja seperti tak masuk akal. Akhirnya aku hanya diam. Dan aku tetap yang harus minta maaf pada Lala. Tetap saja Lala merajuk, dan mala mini aku tidak ingin memujuknya. Kami hanya diam hingga tiba di depan rumahku.

Terlihat lampu kamar menyala, Lala curiga tapi dia urung menanyakan kalau ada orang di dalam rumahku. Ditangga kulihat sepatu baru Yunda tergeletak tak tentu arah. Dia juga manusia yang tak tahan pipis, pasti kebelet.

“Heh Boneng… kenapa sepatu tungang langgang gitu, macam dikejar setan,” tanyaku. Dia sudah membuatkan aku teh kelat. “Nih buat kamu. kenapa si Lala? Mukamu suntuk gitu,” Yunda selalu tau apa kejadianku tanpa harus kuceritakan.

Malam itu aku mengerjakan projek website travilling Yunda. Kontraknya lumayan buat tiket pesawat dua orang ke Lombok. Nantinya tiket akan kupesan sesuai dengan cuti Lala. Aku sangat ingin membuat dia tersenyum. Tingkahku selama ini selalu membua dia kesal. Tapi menurut Yunda, malah sebaliknya. Anak kemaren sore ini kadang sok tau.

Lala sudah setuju akan pergi ke Lombok sebulan lagi. Cuti sudah berhasil ia peroleh dari pimpinan klinik. Hanya menunggu sebulan sambil menyelesaikan pekerjaan design web milik si Yunda.

Semingu menjelang liburan kami ke Lombok. Lala datang bertamu ke rumah membawa makanan kecil yang kugemari. Dia merapikan rumah, menyusun buku yang diserakkan Yunda, membersihkan dapur yang diserakkan Yunda, dan mencuci seprei yang ditiduri Yunda dan aku. Tak tega melihat perilaku kami yang tidak menjaga perasaan Lala.
Membersihkan rak sepatu. Dan… “ini sepatu siapa ? koq lebih kecil ?,” Tanya Lala sambil memungut sepatu boot merah milik Yunda. Matilah aku.
“Itu, si Yunda pinjam sendalku kemarin hujan. Takut rusak sepatu barunya,” kataku jujur. Tapi Lala malah tersenyum. “kalian lucu.”

Lala sering menanyakan tenang Yunda, yang setahu dia, Yunda hanyalah klien website ku saja. Yang sering datang berkonsultasi. Dalam hati Lala merasa cemburu, terbaca dari tatapan yang dia curi-curi saat melirik Yunda. Tapi dasar Yunda Polos, dia tidak merasa risih berada bersama pacar orang.
Meskipun gayanya selalu cuek,  dia seorang pendengar yang baik dan perasa.  Ia harus berjuang mencari uang sendiri untuk kuliah yang sering bolong karena kesibukakannya berjelajah untuk tv nasional.

Lala seumuran denganku, dia dewasa, peka dan sangat wanita. Sepatunya paling aku suka, dia selalu memakai sepatu wanita sekali. Pertama bertemu dia menenteng sepatunya pink tanpa hak di mesjid. Saat itu dia kehilangan kaus kaki, dia tampak kebingungan. Lalu dia memakai tanpa kaus kaki, agak kikuk jalannya. Dia melewai dan member senyum untukku. Dia sadar kalau dari tadi aku memperhatikannya. Ternyata dia takut lecet. Saat itu dia masih kuliah di tingkat akhir. Kami berkenalan di halaman mesjid, kami sama-sama menunggu teman yang lagi solat juga. Tiga tahun berkenalan setahun berpacaran. Sangat lama aku menyakinkan cintaku padanya. Lala bukanlah orang yang suka pacaran saat itu. Dan saat ini dia menganggap kami taaruf.

Kadang Lala membohongi orang tua jika ingin berjumpa denganku. Tak baik perempuan menjumpai lak-laki diluar rumah, kata ayahnya. Aku khawatir ayahnya akan keberatan member izin kami berlibur ke Lombok. Seminggu lagi akan berangkat tapi Lala belum juga meminta izin.

H-3 aku sibuk menyiapkan design untuk layout majalah remaja. Agar nanti sewaktu pulang kerjaan tidak menumpuk. Harus begadang dan membuat teh kelat, aku tak bisa minum kopi. Teh ini dibelikan Yunda di airport Jepang, katanya bagus buat yang sering begadang. Seketika aku rindu ingin diganggu Yunda. Sudah sebulan sejak webnya diluncurkan, dia jarang ke rumah. Anehnya kami tidak pernah saling menelfon.
Iseng aku menelfon yunda. Terdengar nada tunggu lagu spongebob. Dasar anak dibawah umur.

HP diangkat, lalu dia berdehem, “Halo… Min ? ada apa? Aku sudah tidur,” Tanya Yunda penasaran dari seberang.
“Nggak, kangen aja, tidak ada yang mengacau lagi di rumahku,” jawabku.
“Iya, aku lagi final di kampus, sibuk kumpulin catatan buat nyontek,” suaranya seperti Yunda sedang berjalan, ada suara gelas lalu dispenser.
“Kau OK sama Lala? ,” Tanya tiba-tiba. 
“Kenapa Tanya gitu, aku dan Lala akur. Kami akan liburan ke Lombok,” jelasku.
“Aku bilang sih, dia nggak dikasi ijin sama orang tuanya. Bukan mendoakan, dia itu anak baek-baek mau kau ajak pula pergi berduaan. Ajak makan bakso aja susah,” Yunda mulai meracau.

Malam itu, aku mencoba memikirkan kemungkinan jika Lala tak jadi ikut. 

Pagi H-2.
SMS masuk dari HP.
Ayah menyuruh Amin datang ke rumah, perihal izin kita ke Lombok.
Sender: Honey. 06.00 wib.

Detak jantungku terasa berdetak lebih kencang, aku gelisah. Merasa lancang mengajak anak gadis orang bepergian. Padahal orang tuanya belum memberikan lampu hijau dengan hubungan kami. Lala terlalu mencintaiku, hingga dia sendiri yang memberikan kelonggaran atas batasan orang tuanya.

Mengenakan baju yang pantas dan sopan. Aku datangi rumah Lala dengan segala konsekuensi. Yang sudah pasti liburan kami gagal.
Sore itu, ayahnya terlihat tenang didampingi ibu Lala, sementara Lala belum pulang dari kliniknya. Dia memintaku menguraikan apa yang kami rencanakan setiba di Lombok. Aku mengeluaran undangan pameran dari tas ranselku. Undangan pameran design Internasional yang tidak mungkin tak kudatangi untuk bertemu designer top dari luar.
Ayahnya mangut-manggut.

“Saya rasa Lala tidak perlu ikut. Saya tidak mengizinkan Lala pergi jauh dengan bukan muhrim. Maaf nak Amin. Saya harus mengatakan keputusan kalian ini membuat saya malu sebagai orang tua. Lala mengambil keputusan sendiri,” ayahnya sedih dengan kelakukan Lala. Ayahnya tidak menyalahkan aku. Tetapi sebagai anak saleh, Lala harusnya menjelaskan keadaan seorang wanita yang tidak muhrim kepadaku.
Aku ini tau apa. Memposisikan sama dengan semua wanita. Jalan-jalan biasa, tidak ada niat mengambil kesempatan pada Lala.

“Saya harus mengawinkan Lala, sepertinya dia harus segera berumah tangga, agar keinginan mudanya perpenuhi jika sudah bersuami. Kami ini orang tua yang terlalu cinta anak kami,” jelas ayahnya.
“Apa yang harus saya lakukan Pak ?,” tanyaku dengan suara yang hampir tidak terdengar. Serak dan terbata.

“Saya ingin mencari imam untuk menjadi suami Lala. Kalau kami merasa bisa membimbing anak saya, bawakan orang tuamu dalam waktu dekat.”

Aku pulang dengan gontai. Jelas aku tak mampu menjadi imam seperti yag dimaksud ayahnya. Aku keluar dari rumah megah itu, sambil melirik barisan sepatu Lala di sudut ruangan. “sudahlah kawan, kau hanya sanggup belikan Lala sepasang sepatu,” kata heels kotak-kotak, hadiah ulang tahun dariku.

Dirumah, aku termenung, mengenang hubungan ku yang tak diinginkan orang tua Lala. Aku tidak paham agama sama sekali, solatpun jarang, hanya rajin di depan Lala, aku hanya menyenangkan dia. Bagaimana aku terus menipu Lala kalau jadi suaminya.
Hari keberangkatan aku masih belum packing barang untuk berangkat sendiri. Hari itu juga aku dan Lala setuju berpisah.

“Doakan aku dapat jodoh sebaik kamu Amin. Aku akan dijodohkan dalam waktu dekat. Ayah tidak mau aku durhaka. Amin jaga diri baik-baik di sana ya. Jangan lupa solat,” suaranya tertahan dengan isak yang dibuat setegar mungkin. Aku duduk
HP berbunyi, SMS masuk, aku tersedot dari lubang hitam yang dalam.
“Aku ke rumah ya boneng, mau dibelikan apa?,”
Sender: Yunda 00.20 wib.
Hanya sebentar terdengar dia mematikan mesin motornya yang berisik dari depan lorong. Biasanya dia mendorong motor sampai garasi, agar suara motor ak menggangu tetangga.
“Taraaa… aku bawa sate langgananmu. Aku nginap disini ya, kos ku tutup,” ucapnya ceria seperi biasa. Aku tidak peduli dan pura-pura tidur lagi. Yunda ke toilet untuk pipis dan ke dapur menyeduh teh kelat untuk kami berdua. Itu ritualnya.
Kami makan sate, minum teh, merokok. Sambil mendengar kisah nyonteknya selama final. Lalu dia celingak-celinguk memeriksa meja kerjaku.
“wow… kamu dapat ya undagan pameran design ke Lombok,” Yunda menempel undangan di jidatku.
“Aku ikut dong Amin.. kan untuk dua orang nih, yaya.. aku bayar tiket sendiri. Final ku udah selesai kok. Aku lagi libur,” Yunda merayu ku.
Barulah aku mengambil tiket yang sudah tertera nama ku dan Lala disitu. “Owhh.. ajak Lala ya? Ya sudah lah,” Yunda tidak keberatan sama sekali. Lalu dia mulai merasa ada yang aneh dengan tingkahku.

“Kami putus,” kataku. Aku menunggu reaksinya. Yunda sampai mangap dan tidak dapat berkata-kata. Dia mengemgam tanganku dan memeluk lenganku sambil merebahkan kepala di bahuku. Tidak berkata apa-apa. Kami hanya terdiam hingga satu jam. Yunda tau bagaimana kami saling cinta. Meski dia kadang menjadi pemicu Lala cemburu.
Malam itu kami tidur saling berpelukan. Lupa mengunci pintu, menutup jendela dan sepatu tetap berserak didepan pintu kamar.

Ketika bangun aku lihat Yunda mondar mandir seperti diburu sesuatu.
“Apa keputusanmu sama tiket pesawat ini?,” muka Yunda bertanya serius.
“Aku nggak mau pergi sendiri,” aku menjawab sekenanya.
“Aku yang ikut Amin,” katanya. Kami melirik jam ditangan masing-masing. Melihat waktu cek in pada tiket, hanya tersisa setengah jam lagi.
Tanpa mandi aku packing baju dan membereskan laptop. Yunda hanya sisiran dan tanpa membawa baju sehelaipun dalam ransel camera nya. Kami bergegas memacu trail milik Yunda, menembusi jalan tol ke bandara. Sepintas kulirik dari spion Yunda memegang tiket sambil memencet iPhone, dia cek in lewat HP nya. Kami hampir ketinggalan pesawat perihal nama Lala di tiket.

Setelah memasang seatbelt, kami tertawa-tawa di dalam pesawat tanpa memperdulikan penumpang yang kesal sudah menunggu kami terlambat.
“Lalu kamu pakai apa nanti disana Yun,” Tanya ku melihat dia santai saja tidak bawa apapun kecuali cameranya.
“Aku pakai sempak mu yaaaa,” goda Yunda melirik manja.
Akhirnya kami tidur lagi di pesawat yang membawa kami ke Lombok. Setelah bangun mudah-mudahan aku dapat melupakan kisahku dan Lala.
Pramugari membangunkan kami yang masih kurang tidur ini. Yunda bersandar pada bahuku sambil memeluk lengan kiriku. Diluar gerimis menyambut kami, tetapi ada cahaya yang akan memgambar pelangi. Pasti.

“Pak, ini sepatu pacarnya, sudah terseret sampai ke depan tadi,” kata pramugari cantik sambil sedikit membungkuk. Kuperhatikan dan kuambil sepatu Yunda, boot takut hujan. Jenis sport yang sangat cocok dengan kepribadiannya. Yunda terbangun dan merampas sepatu dari tanganku.
“Hanya sepatu jenis ini yang dapat mengerti kamu Amin,” kata di depan mukaku dengan wajah malas.
“Boot takut hujan,” ejekku. Ternyata hujan akan merusak warna merah dikulit sepatunya. Karena dia malas merawat sepatu.

Kami harus menunggu penumpang yang berdesakan ingin turun dari pesawat. Hawa hujan Lombok menyambut kedatanganku di musim hujan ini. Yunda menunggu di depan tangga menunggu aku menikmati gerimis.
“oiii orang kampong, enggak pernah kenak ujan ya,” teriaknya sambil menendang kakiku. Mulailah kami kejar-kejaran hingga kena tegur satpam airport. Meski sepatunya kena cipratan, dia tak peduli lagi.
Yunda, aku berjanji akan merawat sepatu boot merahmu. []

Selasa, Oktober 22

Pecandu Kopi

Setelah seminggu menjauh dari kotaku. Kau bergegas pulang karena kehilangan aroma dan rasa kopi. Aku dapat merasakan kau yang sakau di sana. Seperti aku yang kehilanganmu. Aroma tubuhmu kurindu. 

Aku percaya tempat yang pertama kau datangi adalah meja di warung kopi langgananmu. Bukan meja kantormu. Bukan pula kamar tidurku.

Candumu hanya pada biji coklat mungil yang telah digonseng. Aroma rindu yang keluar pertanda biji siap berada di dalam pemanggang. Harus segera dikeluarkan, agar pecandu sepertimu tak melupakan aromanya yang menusuk otak dan membuat mata terjaga. Lalu dia diputar untuk didinginkan agar suhu nya menjaga aroma yang membuatmu merindu. 

Seperti aku yang setiap saat terpanggang dengan candu yang kau titipkan lewat mata lelah memandangku malas. 

Lalu kau sabar menunggu Biji kopi di haluskan agar tidak sia-sia dan terbuang sedikitpun. Sama sabar ku menunggu dengan sunyi dan pelan agar tak sedikitpun rindu ini tersiakan sebelum kau kembali. 

Besok pagi, aku hanya akan menanti kau di sudut meja untuk menulis pesanan kopimu. Lalu menyodorkan gelas kopi yang pertama setelah Warung dibuka. Kau sambut dengan senyuman sembari menghirup aroma dari kepulan, lalu melepas lega cafein telah masuk kedalam paru mu. 

Hirupan pertama menjalar bagai menghantarkan ion-ion pelepas rindu. Serumput berikutnya untuk kehausan mencari diri dalam ketidak pastian kala. 
Mungkin besok aku akan gratiskan kopi pancung untuk menyembuhkan rindumu pada kopi. Dan rinduku pada mu. 

Canduku lebih berbahaya karena tak ada pesanan dalam menu yang dapat menyembuhkan. Sebaiknya aku menjelma sebagai kopi. Saat kau menghirupku, aku menyatu dalam raga dan rindumu. 

Atau esok lusa aku ingin terlentang di atas penjemuran, menahan terik demi kau miliki aku dalam secangkir kopi. 


Rabu, Agustus 21

imajinasi gagal

Kenapa kopi? Kafein yang terkandung membuat jantung berpacu lebih cepat. Sama saat aku berjumpa denganmu, detak jantung tak seperti biasa. Aku gundah dan salah tingkah.

Setelah menghabiskan segelas kopi, kita akan terjaga lebih lama. Aku sering jet-Lag setelah bertemu lelaki tu. Halayan memenuhi ruang kamar untuk menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Aku insomnia malam itu. 

Belum lagi perutku yang kacau karena kopi tak diinginkan asam lambungku yang kumat. Kau wahai lelaki, nikmat sekaligus muzarat yang harus kunikmati keduanya sebagai akibat. 

Mengapa kau kopi? Kau itu candu, hari diawali dengan pahitmu yang kelam. Kadang harus melewatkan malam untuk menikmatimu saat hari baru dimulai. Aromamu yang melayang diantara partikel udara merangsang syaraf untuk terjaga. Kau membangunkan hasrat pada jiwaku yang terlelap. Saatnya aku bangkit untuk menyeduh dan menegukmu. 

Wahai lelaki... Kau ada dalam darah sejak pagi itu, DNA ku telah berubah dengan campuran kafeinmu yang tak hanya ada dalam darah saja. Hingga prilaku kini lebih girang, lebih charming kata orang sejak kandunganmu bersimultan dalam aliran darah di tubuhku. 

Jika kau tak ada, sama saja tidak meminum kopi. Bayangkan jika kita meniadakan kebiasan yang sudah menjadi rutin yang mendarah dalam setiap pembuluh. Jika memang kau tak tiada, aku terus lelap, aku layu dan detakku melemah. Udara kering dan hampa dalam ruang kamar ini. 

Intinya, love and coffee are the best when they are hot. Jangan biarkan kopimu dingin dalam cangkir yang menampung banyak cinta di sana. Jangan biarkan jiwamu sepi tanpa kopi. 

Terkandang aku ingin cepat pulang hanya untuk menikmatimu sambil termenung didepan jendela. Hanya kopi dan jendela yang dapat mengantarkanku dimanapun kau berada. 



Kamis, Mei 23

Cawan hati

Cawan wadah untuk mengisi air. Bak hati yang ingin diisi cinta yang selalu diharap penuh. Namun seseorang terkadang meminum isinya dan mencuci cawan agar ketika meminum jenis minan lain tak meninggalkan bekas rasa air yang lama. 

Seperti hati yang pernah terisi jika sanger telah habis, harus segera dibilas. Sehingga jika kau ingin mengisi teh tak tersisa aroma kopi pada cawan yang sama. 

Setelah sekian banyak minuman berbeda mengisi cawanku, kini Ia kosong. Seakan tak ada lagi jenis minuman yang akan singgah di cawan ini. Bukan tak bisa mengisi minuman yang sama. Tetapi mereka semua mengecewakan. Selalu memin habis tanpa ingin mengisi kembali. 

Kini cawanku hanya bisa menunggu jenis seperti apa akan kunamankan cawan ini. Cawan sanger kah, cawan teh hangat kah, atau cawan kopi tanpa gula. 

Ibu selalu berpesan, agar aku menunggu hari raya. Sirup tak akan pernah habis dan membiarkan cawan kosong melayani tetamu. Hari itu penuh berkah. Cawan sebagai simbol Silaturrahmi antara keluarga, simbol hari yang suci. 

Tanpa perlu pemanis tambahan, sirup pilihan pelepas dahaga setelah sekian lama cawan berpuasa.  Ada benarnya pikirku. 

Tahukah ibu, cawanku terlalu lama berpuasa. Dari Rajab hingga menunggu Ramadhan datang. Jika tak berkesempatan pada Hari raya fitri ini, aku akan berpuasa lagi hingga Hari raya saat ibu ke tanah suci. 

Kamis, Februari 28

Melukis untuk pria buta


Bulan ini akan berakhir dengan senyuman. Genap sepurnama aku bersamamu. Tak dapat kusampaikan dengan bahasa tubuh bahagia ini. Segalanya harus kuucapkan. Setiap perasaan yang kutulis dengan brailler dan kau harus merabanya. Mencintai seseorang dengan kekurangannya adalah anugerah yang tak kusangka. aku belajar memaknai hidup. Hidup yang kau titipkan padaku.

Untungnya aku seorang pendongeng yang me-nina bobokkan setiap malammu. Aku menciptakan imajinasi yang mudah kau pahami. Aku juga mencari diksi cinta yang mudah kau mengerti. Aku akan bersabar jika kau belum mengerti maksud hatiku yang berat ini. Walau kau sering mengeluh, jika tak dapat membayangkan pandanganku saat ini.

Huruf brailer yang kau ajarkan hampir rampung kupelajari. Namun aku ingin melukiskan hatiku dengan huruf ini. Sudah sebulan aku belum memulai lukisan perasaanku. Hanya berkutat dengan tulisan seperti keinginanmu. Padahal aku juga punya misi untuk lebih membuat kau bahagia. 

Aku takkan menyerah hingga kau dapat melihat dengan hati nuranimu. Lukisan ini tentang kisahku, kisah kita dimasa depan. Dimana anak anak kecil yang selama ini hanya kau dengarkan gelak mereka. Hanya kau raba wajah mereka. Lukisan ini lah yang akan membuka pintu hatimu menuju maksudku.

Jika kita berhasil menyamakan imajisi dalam lukisanku, kelak, mungkin kau akan dapat melihat. Jika tidak, ada perempuan lain yang akan membimbingmu melihat lukisanku. Tak mengapa.

Hingga saat ini, cukuplah kau raba saja dongengku setiap hari pada huruf timbul di dalam diariku. Jika aku tak lelah, akan kubacakan sedikit cerita tentang gadis langit yang rindu hujan. Asalkan suaraku dapat mengantarkan mu terlelap dan memimpikan aku.

Semua yang kau butuhkan katakan padaku. Begitu cara aku mencintaimu. 


Rabu, Februari 27

kau itu semuanya

kau kopi yang tak boleh kuminum
asam lambungku akan kambuh
sehingga aku harus melupakanmu
sampai luka di ulu hatiku membaik

kau bagai senja yang tak dapat kugapai
cahaya yang menyilaukan mata
kau tenggelam terlalu jauh
pada perut bumi yang hendak kau kejar

pohon pelindungku adalah kamu
namun aku tak dapat memelukmu dikala malam
kita tak bisa berebut oksigen selama itu
namun siangpun aku tak dapat mengunjungimu

kau juga ikan yang bermain dalam wadahku
air yang membuat kita dalam multi dimensi
antara kau dan aku tetap bersama
akulah akuarium yang menampungmu bersama air

andai kita berarung dengan jeram kehidupan
maukah kau menjadi kemudi perahu kita
kita akan arungi multi jeram
hingga kita berada pada finish yang flat tak bertuan

terkadang aku ingin kau menjelma menjadi hujan
yang membasahi jendela kamarku
suaranya membawa aku padamu
dalam derainya kita tak terpisahkan

jika aku menjadi ratu lebah
akan kubuatkan lilin madu untukmu
kubuat kau berhenti menjadi pekerja
agar kita dapat bergaul dirumah selamanya

andai hanyalah angan
jika itu tak akan terwakili
bila kau tak ingin menjadi
kemanakah asaku ini.

Senin, Februari 25

Pohonku


Kemarin saat pulang sekolah aku membeli sebatang pohon beringin. Daunnya belum banyak, tapi ia memiliki akar yang menjuntai dari batangnya. Pohon ini aneh sekali, akarnya mencoba berbeda. Namanya akar udara. Tetapi ia patuh pada grafitasi.

Ibu bilang pohon itu kemahalan untuk usiaku. Itu koleksi orang tua yang sudah pandai merawatnya. Anehnya para orang tua ini tidak menanam beringin indah ini di tanah. Tetapi di pot yang malah dikerdilkan. Ibu menyarankan beringin ini kutanam saja di halaman samping timur rumah. Kalau siang hari, kamar ku akan terhalangi sinar matahari.
Kini aku mendatangi kebun samping timur rumahku. Tepat depan jendela kamar, lubangnya sudah kusiapkan dari kemarin. Setelah kusiram, aku kulai memetik daunnya satu persatu. Hanya 4 helai disetiap tangkai kutinggalkan. Agar, jika ia sudah mendapat nutrisi, ia dapat prioritas untuk akar dulu. Pekembangan daun bisa belakangan.
Saat malam, kupandangi beringin itu dari jendela kaca kamarku. Dia kesepian, dia kedinginan. Kalau saja aku tanam di pot, dia bisa kumasukkan ke dalam rumah. Tapi ibu menasehati, kalau pohon lebih baik berada di luar, agar kita tidak kompetisi menghirup oksigen kalau malam. Baiklah.
Malam berikutnya, aku tak dapat tidur memikirkan nama untuk pohon mungilku. Namanya harus pas dengan jenis pohonnya. Oke, mari kita cari filosofinya, pohon ini akan besar, ia memiliki akar di luar akar, yang menjuntai pada pohonnya. Namanya akar udara. Mungkin ia ingin bebas, mungkin akar yang ini tak suka tanah. Berarti dia ingin bebas.
Free nama yang cocok menurutku. Ibu protes, kenapa tak memberi nama ara saja. Lebih ilmiah katanya. Lalu kujelaskan tentang akar Free kepada ibu, ia hanya manggut-manggut, lalu menggeleng sambil tersenyum.
Kuharap jika Free sudah besar, ia akan menjadi penyerap air di rumahku jika hujan. Aku tak akan cemburu jika ada burung yang bersarang di dahannya. Aku akan membuatkan ayunan jika dahannya sudah kokoh. Ayahpun punya rencana membuatkan rumah pohon untukku. Agar dapat berduaan dengan Free setiap senja. Yang paling penting aku dapat membaca dan menulis di bawah pohonnya yang rindang. Dan lebih penting lagi, kamarku akan sejuk kalau udara sedang panas.
Ibu bilang aku harus menunggu dua tahun agar pohon dan akarnya benar-benar kokoh. Bagiku tak terlalu lama. Aku akan menikmati setiap tumbuh kembang Free perlahan-lahan, hingga aku tak perlu menyiramnya lagi.
Aku akan menunggu sampai ia berbuah berwarna merah.
**

Rabu, Januari 30

Mencari Sepatu Sebelah Kiri (part 2)

SEjalan samPAi TUa



Aku mencari sepatu kiriku, dia hilang sejak aku memesannya pada pembuat sepatu. selama ini aku mencari di  pasar.

Tak ada yang cocok dengan pasangan yang kanan ini. tetapi aku yakin, seseorang memegang sepatu itu berjenis kelamin laki-laki. aku ingin dia seorang break the rule. Walau sepatu itu kiri, dia akan mengepas di kaki kanannya.

Dia belum sempat mencari yang ada padaku. sebagai break the rule, dia ingin melanggar kodratnya. tak mengapa. aku punya alasan lain untuk mencari pasangan sepatu ini.wanita memiliki sudut pandang yang lebih banyak dari kalian para pria.

Wanita memandang seperti mercusuar. Menyapu semua pandangan 180 derajat.  Tetapi lelaki memandang focus pada titik yang jauh, seperti teropong bajak laut. Monokuler. Dia tak dapat melihat benda yang dekat. Semut di ujung laut dia perhatiakan.

Tak mengapa. Aku akan menyapu seluruh pemilik sepatu. Namun aku pernah memergoki seorang yang kiri sedang menenteng sepatu yang persis dengan ku punya. Tapi dia bilang itu bukan pasangannya. Aku sedih.

Ketidak cocokan adalah perbedaan yang indah. Tuhan menciptakan kau dan aku berbeda tetapi serasi. Akan selalu pada posisi masing-masing, namun saling melengkapi. Tanpa kiri, maka tak lengkaplah kanan. Harganya tetap sama waktu pertama kali dijual tukang sepatu.

Tidakkah kau tau, kedua sepatu itu saling merindu. Selama 31 tahun mereka terpisah. Aku tak sabar mempertemukan mereka untuk membuat pasangan ini melangkah bersama. Saat berhenti mereka beriringan. Aku ingin menyusun dengan rapi di muka pintu rumahku.

Mengapa aku sangat menyayangi sepatu, mereka melambangkan kesetiaan, kesedehanaan, kejujuran dan ketulusan. Begitulah niatku pada lelaki itu.

Jumat, Januari 4

Sepatu Kets Usang (Part 1)

Sepatu kets itu, ku temukan di bawah tangga. Gudang sepatu-sepatu usang. Dulu aku bangga sama sepatu ini karna dia setia menemaniku ke kampus, karna sudah lama terpakai, kalau kena becek bocor dan buat kaus kaki basah. Bau busuk jadinya kaki ku. Aku paling g suka bermasalah sama kaki, karna gampang kutu air. Ibuku complain aku mau ganti sepatu.“Kan bisa diperbaiki, atau kakimu di rawat biar nggak kena jamur. Kalau dipemerbaiki masih bisa di pakai pas nggak musim ujan”. Aku tetap pendirian, mencari sepatu jenis kets baru. Selain kets nyaman, lumayan bisa dipakai kemana aja.

Temanku juga punya cerita sepatu kets. Sepatu itu itu dia dapat dari ‘monja’, tempat menjual barang-barang bekas. Dari kejauhan matanya sudah berbinar-binar liat sepatu kets itu dirak sepatu monja Melati. “jangan keliatan suka nya, ntar di mahalin” kataku pada teman ku ini sebut saja wati. Akhirnya dia dapat dengan harga murah. Saking senangnya, sampai lompat-lompat dan menjerit-jerit di pasar monja itu. Sepatu kets itu keliatan professional ketika di kakinya, dia lebih PeDe dan keliatan smart. Belakangan ku dengar sepatu kets milik wati sering ngulah, ya ilang tali lah, nyangkut di loteng lah, banyak deh kejadian yang membuat wati sering telat kekampus. Walau begitu, wati tetap sayang sama sepatunya. “sepatu ini mengajarkan aku kesabaran dan rasa syukur, jadi aku harus lebih sayang padanya” itulah pembenaran dari Wati. Itu menurut ku. Namanya aku naïf. Suatu hari wati solat di musholla perpus, eee sepatunya ilang gitu aja. Selang beberapa hari, diliatnya sepatu itu sama pemilik aslinya,”ini dia sepatu butut aku, dicuri orang dan dijual ke monja” kata perempuan itu. Iya itu memang sepatu wanita cantik itu, dia lebih pantas memakainya karna dia jalan begitu gemulai. Ya udah lah Wati bukan jodohmu sepatu monja itu.

Kejadian sepatu yang satu ini baru aja terjadi. Ola nama kawanku yang satu ini, udah sering dibuang sepatunya sama ibunya tetap aja diambil lagi dari tong sampah. Iiihhh… Ola jorok. Katanya,” sepatu ini penuh perjuangan banyak sekali kenangannya, selain nyaman, juga bisa dipakai ke berbagai medan”. Kebetulan kami tinggal di medan, jadi kami cewek-cewek yang suka jalan dan berpetualang. Kebali ke Ola, tragedy kali ini Ola kena batunya. Dia masuk rumah sakit gara-gara sepatu kets nya itu. Kaki Ola kena paku bangunan pas lagi survey kontruksi, karna Ola kuliah bagian itu. Ya iya lah kena paku, nggak pake boot. Malah pake sepatu kets busuk. Untung-untung cumin luka doang, kalau tetanus gimana? Akhirnya ibu Ola memberikan sepatu itu pada teman tetangga nya. Cewek keriting yang doyan ngecat sepatu bekas. Ola sering sakit hati liat si kriting itu pake sepatu buat olahraga doang. “huff… dasar. Banyak simpanan(sepatu)”. Ternyata Ola belum rela melihat sepatunya dipakai cewek itu.

Sekarang Wati sedang pamer sepatu barunya. Ganti gaya dia. Aku pun heran sambil nyelutuk “Apaan beli sepatu kede-an tuh, gaya pembalap lagi”. Wati Cuma cemberut mendengarnya. Walaupun begitu aku setuju aja sama pilihan Wati, dari pada cedera kayak Ola. Nah, sekarang aku dan Ola yng pusing nyari sepatu baru. Dia lebih memilih yang sport ternyata. Tapi aku ingin yang hi heel, biar sesuai umur.

Kami bertiga sering bertanya siapa sih pembuat sepatu pertama?


Sabtu, Oktober 27

Lelaki Dalam Secangkir Kopi


Malam itu aku tak dapat tidur. Juna baru saja menelfon untuk yang terakhir kali. Dia telah mengambil keputusan untuk melanjutkan master ke Jerman bulan depan. mengapa harus dia mengatakannya saat aku senang, bahagia mendapatkan kerja baru di percetakan ternama. Saat aku sedang semangat ingin berbagi bahagia dengannya.
Bisakah pagi berganti dengan malam jika aku tak tidur, pasti berita buruk yang akan dikatakan Juna. Tapi matahari tetap saja muncul dengan ceria. Yah.. aku masih bahagia dengan email dari Pak Usman tentang tawaran menulis cerpen. Hayalan dan ide nulis silih berganti dengan penasarannya ketemu Juna besok.
Jam delapan teng aku tiba di Solong UK. Kusapu seluruh tenda dengan pandanganku di depan parkir untuk cari cowok gimbal dengan kemeja kotak-kotak, nihil. Akhirnya aku memutuskan duduk di dalam warung, teras pasti akan panas nantinya. Dan Menghindari teras yang akan berdatangan teman-teman yang biasa nongkrong disitu. Biar lebih leluasa nangis kalau terjadi apa-apa nantinya.
Waiter datang menyapaku. Hanya dengan senyuman, dia tau apa pesananku dengan mengatakan “Biasakan ?”. aku hanya mengangguk-angguk lemas padanya. Efek begadang mulai terasa. Mungkin seperti biasa, Juna terlambat 30 menit.
Kuseruput sangerku. Kopi ini akan menenangkanku selama aku masih bengong sendiri. Juna muncul di depanku dengan muka layu. Dia hanya telat 10 menit pagi ini. Pasti pertemuan terakhir sehingga dia on time. “Jadi?” aku membuka pembicaraan. “kamu harus senang dengan kepergianku, itu salah satu doamu” katanya. Dia mulai menceritakan tentang undangan biasiswanya. “aku ingin kamu mencari pria lain yang baik hati, yang bisa menemanimu selalu”. Bicara sambil menunduk. Kuteguk sanger dingin, tapi tak berasa sanger lagi. Kopi ini mulai terasa asam. Lalu aku tersenyum dan mencandainya “ hey, kalau kamu pergi aku pasti jadi rebutan disini”. Lalu kami tertawa bersama. Walau tertawa terasa dibuat-buat, terus saja kami tertawa tak henti saling mengejek pacar yang akan kami dapat nantinya. Aku pamit sambil meneguk sanger dingin yang tak dingin lagi. Hanya ada rasa susu kali ini karna aku tak sempat mengaduk lagi. Aku meninggalkan solong dengan menahan air mata.
Sebulan sudah berlalu, aku kecanduan sanger dingin dengan rasa kopi kental kurang susu. Setiap kesempatan aku akan singgah di Solong untuk beli sanger yang harus kubawa ke kantor dan bawa pulang. Baru sekarang aku sadar, setiap rasa kangen datang aku kecanduan sanger dingin. Menjadi penulis tetap di kantor baru, aku mendapatkan pujian dari Pak Usman. Katanya cerpenku banyak mendapat pujian. Pembaca menamakan aku miss galau. Damn. Rahasia umum sih, kalau aku sedang patah hati. Jadi kami memutuskan untuk celebrate di Solong untuk cerpen filosofi sanger yang sedang hangat dibicarakan.
Dengan sempoyongan aku memasuki mobil Dika yang menjemputku di depan lorong. Dika ingin memanjakanku hari ini. Dika memang redaktur yang baik hati. Pak Usman and the genk sudah memesankan aku sanger dingin. Aku baru ingat, dari tadi malam aku belum makan, takutnya sanger ini akan membuatku mules. Tapi ya sudah.... semua orang merayakan cerpenku yang pertama tentang kopi. Lima menit kemudian aku mulai mules... bolak balik aku ke kamar kecil dan menjadi bahan tertawaan mereka. 30 menit kemudian, aku merengek pada Dika minta pulang karna sudah keringgat dingin menahan kram perut. Pak Usman teriak saat melihatku mulai pucat. Hari itu juga aku harus dilarikan ke rumah sakit. Asam lambungku kumat. Yaahh, inilah kata tubuhku menyambut bahagia yang tak bisa kunikmati. Aku tak cocok dengan sanger, efek susu hanya membuat mules dan kopi, membuatku susah tidur. kopi dan lelaki sama saja efeknya.
Bulan kedua. Aku bingung mau nulis filosofi kopi tentang apa lagi. Kali ini Pak Usman memberi waktu dua minggu, waktu main-main sudah dicabut dan aku harus lebih serius lagi. Memasuki minggu kedua, aku belum menentukan angle tentang kopi.
Kali ini aku lebih sering memantau warung kopi Rumoeh Aceh Kupi yang dilengkapi dengan mesin canggih pembuat kopi. Disana aku bukannya konsentrasi cari bahan, malah kesem-sem sama barista yang ganteng. Barista itu bernama Joe, he is bad boy. Duda keren yang bercerai dengan istrinya yang bule waktu dia masih tinggal di Amerika. Istrinya tidak ingin tinggal di Indonesia karena harus mengejar karir. Hampir setiap hari kami bertemu untuk membicarakan tentang jenis-jenis kopi yang ada di dunia. Joe selalu tidak setuju dengan sanger, yang katanya, sanger itu hanya kopi unik tidak bisa dibilang kopi yang mendunia. Takaran sanger tidak ada yang tetap dan setiap gelas akan memiliki rasa berbeda. Benar juga sih.
Joe senang dekat denganku, karna aku sempat menulis profil tentangnya di koran tempat dulu aku berkerja. Lumayan masih bisa freelance dan bisa  sedekat ini dengan Joe. Cerpen selesai dengan gaya tulisan kuliner dan cinta. Aku tak bisa memisahkan perasaan dan tulisan. Begitulah tulisanku selama ini. Espresso hanya membuatku terjaga dan tidak candu.
Harusnya aku sadar diri, cintaku sama Joe hanyalah cinta pohon kelapa. Akunya cinta, dianya nggak apa-apa. Dia duda keren yang masih trauma sama pernikahan. Sedangkan aku, selalu membicarakan tentang rumah masa depan yang hanya membuatnya bosan. Jadi jika ingin bersama Joe, aku harus menikmati espresso yang efek paitnya kentara. Terjaga sementara.

                Pak Usman tetap senang dengan statement espresso di cerpenku. Tapi Dika tidak puas dengan tulisanku kali ini, dia protes. Katanya tidak cocok kalau aku harus menyamakan duda dengan espresso. Hehehe.. itu kopi kesukaanya. Dasar, si Dika bujang lapok.
Bulan ini, aku harus menemani kakakku yang lagi hamil, jadi aku harus tinggal dirumahnya hanya untuk masak. Biasalah ibu-ibu hamil, mereka sering memamfaatkan kehamilannya buat malas-malasan. Aku sangat tidak setuju dengan acara ngidam yang sering dibuat-buat kak Beta.
                Suatu hari, suaminya nyelutuk kalau dia ingin ditulisin tentang kopi. Bang Taufik ingin tau kalau dia termasuk laki-laki kopi yang mana. Ternyata sudah tua masih saja narsis. Karna dia seorang aktivis politik, aku membuatkan cerpen di bulan ketiga ini tentang Bang Taufik saja. Aku tertarik dengan kopi kesukaanya yang aneh. Kopi pancung.
                Kak Beta selalu protes kalau karir suaminya, dia sering ditinggalin sama suami dan menurutnya kerjaan aktivis sangat berbahaya. Keluarga sering mendapat teror dan panik dibuatnya. Bang Taufik seorang idealis yang suka koar-koar dengan temannya kalau sedang ada aksi. Di dunia politik jika terlalu idealis akan didepak orang. Baru saja iparku itu di singkirkan dari lembaganya lantaran tidak sama kepentingan. Jadi dia sedang kecanduan kopi pancung agar selalau terjaga untuk membuat tulisan dan opini. Kini dia sedang mengumpulakan pasukan baru dengan mahasiswa untuk pembebasan tahanan politik. Dari nama saja kopi pancung ini sudah seram. Apa lagi pekerjaan yang digeluti Bang Taufik. Aktivis selalu terlihat keren dimataku.
                Bulan ini Pak Usman memberikan bonus besar untuk cerpen kopi pancung. Twitterku kebanjiran mention setiap hari. Sekedar muji cerpen atau promisikan tulisan ini. Taaaapi... tak ada satupun dari followerku yang nambah 1000 orang yang ngasi lampu hijau buat ditaksirin. Naseb.
Bulan keempat. Sms masuk tengah malam dari Ali gebetanku dulu. “ingin curhat”. Curhat aja cari aku, kalau lagi senang dengan istri aja lupa. Ternyata si Ali lagi ribut sama mertuanya. Yaa... imbasnya ribut sama istri juga. “udah dua minggu nggak dapat jatah”. Akunya kesal. Hahahaaa.... mampu lu!
                Curhatan sering terjadi di tempat Gym tempat biasa kami ketemu dulu. Setiap hari aku bertugas hanya jadi tong sampah si Ali dan aku harus harus menjadi pendengar yang baik. Kalau tidak begitu, ntar aku dibilang bukan seorang pendengar dan pembicara yang baik. Itulah pelajaran yang aku dapat darinya saat masih bahagia dulu. Ali adalah gebetan tetap selama lima tahun walaupun kami terkadang punya pacar masing-masing. Cinta yang long lasting tapi gak pernah jadian. Anehkan?
                Alasan jarak membuat kami nggak ingin punya status. Dan dia malah kawin duluan sama juniornya di mapala. Istrinya paling cemburu sama aku, ya iyalah ... cuma aku yang bisa buat Ali itu bisa berfikir jernih dengan segala wejangan disaat dia galau. Namanya tong sampah.
                Akhirnya Ali lari dari rumah selama seminggu. Kami meng-gila ke Sumatra Utara untuk panjat tebing hanya berdua. Lumayan, bisa nostalgia dan menyelesaikan panjat tebing Sikulikap. Di tebing bisa teriak-teriak sambil curhat, terkadang nyanyi bareng. Sampai selesai pemanjatan selama empat hari kami menamatkan semua album Iwan Fals. Kalau sudah suntuk kami masak mie instan dan cappucino sacset.
                Indah sih bersama Ali, tapi suami orang. Gebetan yang status gak jelas dan suka timbul tenggelam cocok sama cappucino yang efeknya sementara dan cepat saji bahagianya. Hanya cappucino kopi sacset yang aku kenal. Akhirnya Ali jadi tokoh utama dalam kisah lelaki cerpen bulan depan dengan judul cappucino itu selingkuhan.
                Kali ini aku menulis tentang lelaki yang agak berbeda. Italian Rose, kopi dingin ala Rumoeh Aceh Kupi yang rasanya aneh banget dilidahku. Ini tentang kisah si Mimi temanku. Janda seksi ini seorang entertain sejati, gayanya udah kayak Shahrini aja kian hari.
                Mimi seorang penyanyi berkelas yang punya suara seperti Norah Jones membuat lelaki mabuk kepayang kalau dengar suaranya. Sekarang Mimi sedang galau, mikirin pacarnya. Om Heru yang berstatus suami orang minta kawin. Mimi galau gara-gara, om Heru itu kaya banget, ganteng banget, nyambung dan “hot banget”, kata mimi. Mau ditolak... cinta, mau diterima... laki orang. Kasian mimi, saban hari harus nyanyi lagu galau adele, full se-album. Om Heru sangat berkelas untuk dilepaskan. Mimi bisa berhenti kerja keras cari duit, biaya perawatan dan kecantikan pastinya akan dipenuhi oleh Om Heru. Hati-hati Mi, sama Italian Rose, kalau gak ngerti menikmatinya gak akan enak kopi bapak-bapak aneh itu.
Bulan berikutnya, tentang kopi tubruk. Gara-gara cerpen kopi tubruk ini aku hampir saja dipecat Pak Usman. Dia marah besar dengan alasan, tidak boleh ada yang jelek citra laki-laki dalam kopi. Untung Dika bela-belain menjelaskan bahwa kopi ini juga positif isinya. Hanya saja dia tersinggung kalau aku membuat kopi tubruk ini lelaki siaga. Siap antar jaga yang berarti setia banget sama pasangannya. Sampai-sampai Pak Usman tidak menegurku seminggu lamanya. Hampir tidak terbit cerpenku yang ini. Belakangan aku baru tau dari Dika kalau Pak Usman suami-suami takut istri. Wakakkaa.. derita lo deh pak.
Setelah berbulan-bulan mendiskripsikan lelaki dalam filosofi kopi. Akhirnya aku menemukan kopi jenis baru yang cocok buat lambungku. Dia seorang lelaki rapi, hah? Nggak salah aku. Gak lah.... cinta itu unik bisa naksir sama siapa aja. Lelaki ini bukan hanya rapi, seorang programer yang perfeksionis dan selalu tepat waktu. Jauh bangetlah bedanya sama aku.
                Aku hanya mengikuti nasehat teman-teman bahwa aku harus move on. Sekali move on dapatnya malah yang aneh, menurutku. Kopi ini dapat membuatku terjaga untuk menulis semua kisah lama yang kutuang dalam minuman sebagai ciri lelaki. Kami cocok dalam segala hal. Kandungan kopi yang sangat kental, ia ciri kopi konvension yang biasanya diminati oleh orang pesisir, tepatnya pelaut. kebetulan dia pecinta senja. Banyak inspirasi yang dihasilkan selama ini, kopi ini menemani malam-malamku. Canduku pada kopi bernama klasik membuat aku bahagia dan mengakhiri petualangan cerpen kopiku. pertanyaannya sekarang bagaimana aku memiliki kopi ini selamanya.
                Hidup bukan saja tentang memilih kopi yang enak, tapi juga harus mengetahui kandungan yang sesuai dengan lambung kita. Satu hal yang harus kulakukan dengan kopi jenis Klasik ini adalah aku harus meninggalkan kopi Arabika yang selama ini menganggu lambung. Memang biji kopi ini terlalu rendah cafeine tapi rasa asamnya membuatku tak nyaman. Pohonnya cocok dengan iklim apapun, jadi lelaki jenis Arabika ini banyak terkandung di kopi manapun. Iklim hatiku kan unik dan berbeda gak bisa dengan ordinary kopi.
                Makanya kini aku harus minum kopi Klasik dengan biji Robusta organik dari Gayo Luwes. Biji kopi ini tumbuh di dataran tinggi, yah... sesuai dengan gayanya yang ordinary tapi radikal, mungkin cocok dibilang ya... ortodok. Kenapa kopi ini berkualitas? Karena perawatannya sangat bagus dan lagi, kelangkaan kopi ini akan menjadikan dia juga seorang yang unik. Indonesia hanya menyumbang 10% kopi Robusta untuk perdagangan kopi. Kopi dengan cita rasa yang pahit ini cowok banget dan memiliki kandungan cafeine lebih tinggi dari Arabika. Sejauh ini hubunganku dengan Maimun memberi pengarus baik pada lambungku.
                Dengan terbitnya buku kumpulan cerpen ini, Pak Usman segera memberikan tugas baru yang lebih menantang untuk menulis novel sains. Baiklah Pak, asal honornya dinaikin ya!.

Rahasia :
Lelaki itu kopi, kamu kira-kira yang mana?
Cerpen itu pacaran, Novel itu nikah.
Gimana menurut kamu?
Jika ada kesamaan nama hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan kisah dan tempat, berarti saya terinspirasi oleh anda. Terima kasih.