Selasa, Oktober 30

Asal Mula Terbentuk Kaum Syiah


Pada saat Nabi Muhammad SAW wafat, umat Islam mengalami pergolakan tentang siapakah pengganti nabi yang akan menjadi khalifah. Semasa hidupnya, Nabi Muhammad tidak memberikan wasiat siapakah kelak yang akan menjadi penerusnya. Musyawarah yang diadakan kaum Mujahirin dan Anshar, terpilihlah Abu Bakar menjadi Khalifah yang pertama. Namun ada golongan yang tidak setuju dengankeputusan tersebut. Mereka menginginkan Ali bin Abi Thalib menjadi penerus kekhalifahan, karna posisi beliau sebagai ahli bait. Muncullah golongan Syiah untuk membela dan menjadi pengikut Ali. Sebagai sepupu dan menantu Rasulullah, golongan Syiah berpendapat bahwa Ali lah yang berhak menjadi khalifah.

Setelah khalifah yang ketiga Usman Wafat, umat Islam beramai membaiat Ali menjadi Khalifah. Setelah enam tahun menjabat, Ali banyak dihadapkan dengan peperangan dan pemberontakan. Karena Ali banyak memecat pejabat masa pemerintahan Usman. Selain itu harta orang kaya yang pernah diberikan pada masa Usman ditarik kembali. Karena kebijaksaan-kebijaksanaan Ali pada masa itu, mengakibatkan perlawanan Gubernur dari Damaskus yang merupakan khalifah Muawiyah. setelah perang Shiffin melawan kaum ini, pihak yang berperang mengadakan tahkim atau Arbitrase. Karena tahkim tersebut tidak menyelesaikan masalah, umat islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Muawiyah, Syiah (pengikut) Ali, dan Al-Khawarij (golongan yang kelaur dari barisan Ali).

Setelah Ali terbunuh oleh kaum Al-Khawarij, dan pemerintahan Yazid naik tahta. Yazid merupakan anak dari khalifah Muawiyah yang menjalankan pemerintahan bersifat Monarki (kerajaan). Kekhalifahan diperoleh dengan cara kekerasan, diplomasi dan tidak dengan pemilihan suara terbanyak. Satu pendapat mengatakan bahwa Yazid anak Muawiyah dari istri yang tidak sah (selir) sehingga kaum Syiah menentang Yazid mengangkat dirinya menjadi khalifah.

Saat Yazid naik tahta penduduk Madinah dipaksa untuk mengambil sumpah untuk setia padanya. Namun hanya dua orang yang tidak mau bersumpah, yaitu Husein bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Kemudian pengikut Ali yang merupakan Syiah mengadakan konsolidasi kekuatan untuk melawan Muawiyah. Kemudian pada tahun 680 M, Husein pindah dari Mekkah ke Kufah (Irak) atas permintaan golongan Syiah. Umat islam di sini tidak mengakui Yazid, lalu mengangkat Husein menjadi Khalifah. Dalam pertempuran di Kuffah, Husein terbunuh dan dipenggal. Kepalanya dikirim ke Damaskus, sedangkan tubuhnya dikubur di karbala.
Setelah kematian Husein banyak pemberontakan terjadi diantaranya, pemberontakan Mukhtar pada 687-687 M. Mukhtar mendapat banyak pengikut diantaranya kaum Mawali, Umat Islam bukan Arab yaitu dari Persia,  Armenia dan lain-lain. Kaum ini dianggap sebagai warga negara kelas dua. Mukhtar terbunuh saat melawan gerakan oposisi lainnya, gerakan Abdullah ibn Zubair. Namun Ibn Zubair tidak dapat menghentikan gerakan Syiah ini.
setelah Husein ibn Ali tebunuh, Zubair mengakui menjadi dirinya menjadi khalifah. Tak lama setelahnya pasukan Bani Umayyah mengepung Mekkah dan Yazid terbunuh saat itu. Kemudian tentara Umayyah menyerbu Ka’bah, keluarga ibn Zubair dan sahabatnya melarikan diri dan mati terbunuh pada tahun 692 M.

Selain gerakan diatas, gerakan-gerakan anarkis yang lakukan oleh kelompok Khawarij dan Syiah juga dapat diredakan. Hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa khalifah Umar ibn Abd Al-Aziz tahun 720 M. Saat itu kaum Mawali disejajarkan dengan muslim Arab dan memberikan kebebasan kepada penganut keyakinan dan kepercaan kepada penganut agama lain.


Sumber: buku Sejarah Peradaban Islam, Dr Badri Yatim, M.A dan internet.

0 komentar:

Poskan Komentar